Dukung tim pemulihan bencana melalui kritik konstruktif

1 month ago 23
Di tengah berbagai tekanan, tim pemulihan bencana Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara layak didukung penuh

Jakarta (ANTARA) - Upaya keras pemulihan bencana alam di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, yang dikawal pemerintah pusat melalui BNPB dan pemerintah daerah, kerap dihadapkan pada berbagai kritik.

Penanganan bencana agar lebih cepat, tanpa memikirkan medan, risiko, dan tingkat kesulitan. Terdengar elegan, namun dengan narasi memojokkan, tanpa berbasis data dan fakta, apalagi menyodorkan gagasan solutif, justru menjadi beban moral tim pemulihan.

Mereka membangun harapan melalui aksi konkret: evakuasi korban, distribusi bantuan, rekonstruksi infrastruktur, sampai menyiapkan tempat tinggal sementara layak korban.

Sementara gelombang kritik mengalir dari masyarakat, media, dan pengamat, terkesan menyerang sisi kelemahan tim, tanpa mempertimbangkan tingkat kesulitan.

Pertanyaannya, bagaimana kritik bisa jadi bagian support system, bukan kontraproduktif? Seperti dikemukakan pakar komunikasi Jürgen Habermas dalam teori komunikasi aksi, perlu dialog rasional yang menghasilkan perbaikan bukan mendistorsi atau mengaburkan esensi. Kritik tanpa dasar empirik hanya memperburuk polarisasi.

Dukungan konstruktif diperlukan untuk jalan keluar sistematis dan memperkuat strategi pemulihan. Di tengah keterbatasan sumber daya dan kompleksitas geografis, kritik seharusnya diniatkan sebagai dukungan menguatkan, bukan mengacaukan.

Karena itu, tim pemulihan, seharusnya bukanlah pihak yang dijadikan sasaran kritik dan kemarahan. Mereka menjalankan kewajiban moral menyelamatkan nyawa dan meringankan beban korban pascabencana. Bagi mereka, tidak ada ruang untuk berdebat, apalagi disampaikan dalam intonasi kemarahan dan kecaman.

Pakar komunikasi John Rawls dalam A Theory of Justice mengatakan bahwa integritas moral mengharuskan tindakan berdasarkan prinsip keadilan rasional, bukan sudut pandang sarat tendensi.

Menghargai perjuangan tim pemulihan dengan nilai kebenaran dan dukungan penuh merupakan prinsip komunikasi kebencanaan yang harus dipegang teguh. Seperti adagium "don't blame anyone for anything", jangan salahkan siapapun atas tindakan apapun. Hal ini bukan sebagai upaya pembenaran atau antikritik, melainkan upaya menciptakan kohesi sosial.

Di saat krisis, dorongan mencari kambing hitam sering menguat, ketimbang dukungan partisipatif, terutama dari oposisi politik atau media yang haus sensasi.

Tim pemulihan membutuhkan daya gedor solusi menyangkut bagaimana distribusi dan alokasi bantuan, koordinasi medis, dan pemulihan ekonomi serta kebutuhan makan korban. Perlu introspeksi apakah kritik itu membantu memecahkan masalah atau justru memperlemah tim yang sedang berjuang di garda depan.

Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |