Jakarta (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) menggencarkan beragam inovasi guna memperluas cakupan program Cek Kesehatan Gratis (CKG), dengan salah satu inovasi bernama Perahu Sehat Pulau Bahagia (PSBB) untuk daerah kepulauan.
Kepala Dinkes Pangkep Herlina dalam konferensi pers bersama Kementerian Kesehatan di Jakarta, Jumat, mengatakan daerah setempat meliputi 13 kecamatan dengan topografi yang unik, antara lain berupa pegunungan, dataran rendah, dan kepulauan.
"PSBB ini dilaksanakan di daerah kepulauan, di mana bahwa waktu itu kita melihat bahwa di daerah kepulauan tidak ada alat transportasi umum untuk menuju puskesmas," katanya.
Dia menjelaskan di kabupaten itu, ada dua kecamatan dengan topografi berupa pegunungan yang dilayani dua puskesmas, tujuh kecamatan di daerah daratan rendah dilayani 14 puskesmas, dan empat kecamatan di daerah kepulauan dilayani tujuh puskesmas.
"Untuk daerah kepulauan ini, kami memiliki lebih 100 pulau dan ada sekitar 80 pulau yang berpenghuni, itu dilayani oleh tujuh puskesmas," katanya.
Baca juga: Kemenkes targetkan jangkau 46 persen penduduk Indonesia pada CKG 2026
Awalnya, PSBB dilakukan menggunakan dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). Akan tetapi, dengan menggunakan dana BOK ini, kemampuan puskesmas untuk kunjungan terbatas untuk satu kali per pulau.
Oleh karena itu, pihaknya melakukan pendekatan kepada para kepala desa untuk membantu menaikkan frekuensi kunjungan puskesmas.
Ia menyebutkan banyak kepala desa yang bersedia dan membantu menyiapkan alat transportasi.
"Dan dalam perkembangannya, bukan hanya alat transportasi yang dibantukan oleh kepala desa, tetapi juga pada saat petugas turun, kepala desa juga membantu makan minumnya petugas, sehingga daerah kepulauan itu kami bisa kunjungi empat kali setahun," katanya.
Dahulu, katanya, dalam pelaksanaan kunjungan puskesmas, satu tim dikirimkan meliputi dokter, bidan, perawat, tenaga kefarmasian, ahli kesehatan lingkungan, sedangkan saat kunjungan, mereka yang memeriksakan diri hanya warga yang merasa tidak sehat.
"Tetapi dengan adanya pelaksanaan CKG, bukan hanya yang sakit untuk melakukan pemeriksaan, tetapi juga kami ajak semua masyarakat untuk melakukan pemeriksaan," katanya.
Dengan cara begitu, katanya, masyarakat yang tergerak melakukan pemeriksaan jauh lebih banyak dibandingkan dengan saat pihak puskesmas hanya menunggu.
Selain PSBB, pihaknya menjalankan sejumlah inovasi untuk memperluas cakupan program tersebut, antara lain menggabungkan dengan program yang sudah ada, seperti Sijagai.
"Waktu itu Pak Bupati melihat bahwa masyarakat kita rupanya banyak yang tinggal di rumah padahal dia sakit, dengan alasan bahwa tidak ada alat transportasi kesehatan. Maka Pak Bupati menganjurkan bahwa semua masyarakat miskin yang sakit, yang tinggal di rumah itu dijemput," katanya ketika menjelaskan tentang program Sijagai.
Dalam program Sijagai, katanya, saat ada anggota keluarga sedang sakit dijemput, sedangkan anggota keluarga lainnya diberikan skrining.
Inovasi-inovasi lainnya, katanya, seperti menggabungkan CKG dengan tes kebugaran aparatur sipil negara (ASN), mengunjungi rumah warga, dan pelaksanaan posyandu remaja.
Berdasarkan hasil CKG di Kabupaten Pangkep, katanya, kondisi terbanyak ditemukan berupa karies gigi dan hipertensi.
"Semoga apa yang kami lakukan juga bermanfaat untuk daerah lain," kata Herlina.
Baca juga: Menkes: CKG 2026 gratiskan tindak pencegahan guna pastikan warga sehat
Baca juga: Dinkes Papua Barat gencarkan CKG melalui pemanfaatan ruang publik
Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































