Dharma Jaya dorong kemandirian pangan di Jakarta, kurangi sapi impor

1 hour ago 3

Jakarta (ANTARA) - Perumda Dharma Jaya mendorong kemandirian pangan di Jakarta melalui penguatan produksi protein hewani dan pengembangan peternakan terpadu guna mengurangi ketergantungan terhadap pasokan sapi impor.

Direktur Utama Perumda Dharma Jaya, Raditya Endra Budiman, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, mengatakan, penguatan ketahanan pangan menjadi bagian penting dalam mendukung Jakarta sebagai kota global, khususnya dalam memastikan ketersediaan protein hewani dengan harga terjangkau bagi masyarakat.

Sebagai BUMD yang bergerak di bidang pangan, kata dia, Dharma Jaya tidak hanya menjaga ketersediaan pasokan, melainkan memperluas akses masyarakat melalui berbagai program pangan murah. Salah satunya, operasi pasar keliling atau "Jawara" yang menyasar permukiman warga.

"Setiap hari ada enam kelurahan yang kami kelilingi menggunakan armada mobil. Jadwalnya, kami koordinasikan dengan pihak kelurahan beberapa hari sebelum pelaksanaan bazar murah, sehingga informasi tersampaikan dengan baik ke masyarakat," ujar Raditya dalam acara diskusi di Jakarta, Senin (10/8).

Selain menyasar penerima Kartu Pangan Murah, Dharma Jaya juga menyediakan opsi kemasan daging ekonomis seharga Rp20.000 yang bisa dibeli melalui berbagai platform belanja online.

Produk porsi sekali masak ini diharapkan dapat membantu pemenuhan gizi harian rumah tangga tanpa menambah beban biaya rumah tangga.

Bangun kawasan peternakan terpadu

Raditya mengatakan salah satu tantangan dalam menjaga stabilitas harga daging sapi adalah masih tingginya ketergantungan terhadap sapi hidup impor, terutama dari Australia.

Kondisi itu membuat harga daging sapi rentan terhadap perubahan nilai tukar rupiah dan gejolak ekonomi global.

Untuk mengurangi ketergantungan itu, Dharma Jaya menyiapkan pengembangan kawasan pertanian dan peternakan terpadu (integrated farming) di lahan seluas 20 hektare di Ciangir, Tangerang, Banten.

"Rencana kami di Ciangir adalah membangun ekosistem peternakan terpadu, mulai dari fasilitas penggemukan berkapasitas 5.000 ekor sapi hidup, pabrik pakan, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), hingga rumah potong hewan dan cold storage," jelasnya.

Tidak hanya di Ciangir, Dharma Jaya juga mengoptimalkan lahan lain di daerah Serang untuk menjadi pusat pembinaan peternak lokal.

Strategi ini diambil untuk mengatasi kelemahan mendasar sapi lokal yang selama ini kalah bersaing akibat standarisasi pakan dan perawatan yang beragam di tingkat peternak tradisional.

Dengan penguatan ekosistem peternakan dan peningkatan kapasitas peternak sapi lokal, Dharma Jaya berharap porsi pakan daging dari produksi dalam negeri dapat terus meningkat, sehingga ketergantungan sapi impor dapat menurun.

Raditya menambahkan upaya membangun kemandirian pangan di Jakarta membutuhkan sinergi semua pihak, tidak hanya Dharma Jaya sendiri

Dia mengharapkan dukungan penuh berkelanjutan dari jajaran eksekutif di bawah kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, kemitraan erat bersama Komisi B dan C DPRD DKI, serta kolaborasi aktif dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) serta para distributor lokal demi memastikan pasokan protein hewani warga Jakarta tetap aman, sehat, berkualitas, dan terjangkau.

Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Jupiter, menegaskan komitmen dewan dalam mengawal anggaran ketahanan pangan karena menyangkut hak dasar masyarakat.

Namun, ia tidak menampik adanya tantangan fiskal di tahun 2026 ini.

Jupiter menyebutkan terjadinya penurunan atau kontraksi APBD DKI Jakarta yang semula diproyeksikan mencapai Rp91 triliun kini terkoreksi menjadi kisaran Rp81 triliun akibat ketidakpastian dana bagi hasil (DBH) dari pemerintah pusat.

Meski kapasitas fiskal daerah sedang tertekan, Komisi B DPRD DKI Jakarta berkomitmen untuk tetap memprioritaskan anggaran subsidi pangan.

Jupiter juga mendorong Dharma Jaya untuk berani mengambil langkah ekstrem demi memutus ketergantungan impor, salah satunya dengan mendatangkan tenaga ahli luar negeri untuk melatih SDM lokal.

"Kondisi global serba tidak pasti, nilai dolar meningkat. Kita harus mandiri dan meniru negara tetangga seperti Malaysia atau Vietnam yang sudah mampu mengandalkan produksi dalam negeri. Kita bisa rekrut ahli peternakan untuk mendidik SDM kita agar tata kelola pangan mandiri ini berjalan maksimal," kata Jupiter.

Sementara itu, perwakilan pelaku usaha kuliner, Tobias mengingat pentingnya menjaga rantai pasokan pangan.

Menurutnya, fluktuasi harga bahan pangan seperti ayam dan daging sangat berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat serta kesehatan anak-anak terkait penanganan stunting.

Baca juga: Dharma Jaya salurkan protein hewani ke 816 titik di Jakarta

Baca juga: Dharma Jaya harap rumah potong hewan modern hadir di seluruh Jakarta

Pewarta: Syaiful Hakim
Editor: Mentari Dwi Gayati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |