Dewan Energi Nasional gandeng Pertamina-PLN bahas kompor listrik

4 hours ago 4
Ke depan, mestinya subsidi LPG mulai dikurangi dan dialihkan ke listrik. Listrik itu subsidinya lebih gampang dikontrol

Jakarta (ANTARA) - Dewan Energi Nasional (DEN) akan memanggil Pertamina dan PLN untuk membahas program transisi dari kompor gas menjadi kompor listrik, sebagai upaya pemerintah meningkatkan ketahanan energi dan mengendalikan subsidi energi.

“Sudah lumayan (dibahas). Hari Rabu (8/4) ini saya sudah mengundang (pemangku kepentingan), ya. Tinggal nanti kami bahas,” ujar Anggota DEN Unggul Priyanto kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Unggul menyampaikan bahwa dalam rapat tersebut, DEN ingin mendengar keterangan dari Pertamina, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas), serta PLN. Dari Pertamina dan Ditjen Migas akan diminta penjelasan mengenai suplai LPG dan konsumsinya di Indonesia.

Sementara itu, dari PLN, ia ingin mendengar sejauh mana kesiapan perusahaan tersebut untuk menyediakan listrik apabila pemerintah menjalankan program transisi dari kompor gas ke kompor listrik.

Baca juga: DEN: Pertamina jaga ketersediaan BBM, masyarakat diharapkan tenang

Menurut Unggul, krisis energi yang dialami oleh berbagai negara menjadi momentum bagi Indonesia untuk melakukan transisi dari kompor gas menjadi kompor listrik.

Dengan menggunakan kompor listrik, Unggul menyampaikan Indonesia dapat mengurangi ketergantungannya terhadap impor energi, terutama LPG.

Terlebih, Indonesia memiliki sumber daya alam berupa batu bara, sehingga memungkinkan Indonesia untuk menghasilkan listriknya sendiri.

“Ke depan, mestinya subsidi LPG mulai dikurangi dan dialihkan ke listrik. Listrik itu subsidinya lebih gampang dikontrol,” ucapnya.

Baca juga: Anggota DEN: Anjuran IEA sesuai skenario transisi energi Indonesia

Sebelumnya, Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menyampaikan transisi dari kompor gas menjadi kompor listrik membutuhkan biaya yang lebih murah apabila dibandingkan dengan biaya yang digelontorkan untuk subsidi impor LPG.

Mengubah kompor LPG menjadi kompor listrik menjadi sorotan Eddy, sebab harga LPG turut dipengaruhi oleh harga minyak dunia yang kian meroket.

Adapun harga minyak dunia jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) saat ini berada di atas 100 dolar AS per barel, lebih tinggi apabila dibandingkan dengan rata-rata harga minyak pada Januari 2026, di mana jenis Brent (ICE) sebesar 64 dolar AS per barel.

“Sebagaimana diketahui, Indonesia mengimpor 75–80 persen kebutuhan LPG yang harganya sejalan dengan harga minyak mentah,” ucap Eddy.

Ke depannya, lanjut dia, ia akan mendukung upaya pemerintah mempercepat proses elektrifikasi, baik di sektor transportasi, industri, serta memasak menggunakan kompor listrik.

Wacana transisi dari kompor LPG menjadi kompor listrik pernah bergulir pada masa kepresidenan Joko Widodo (Jokowi).

Akan tetapi, pada September 2022, PT PLN (Persero) membatalkan program pengalihan kompor LPG 3 kilogram (kg) ke kompor listrik untuk menjaga kenyamanan masyarakat dalam pemulihan ekonomi pascapandemi COVID-19.

Baca juga: Prabowo ratas dengan DEN, pastikan pasokan stok BBM dan gas aman

Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |