Deteksi medsos berujung temuan predator bergigi kecil di Kalbar

1 week ago 18

Bandung (ANTARA) - Kolaborasi peneliti muda dari SITH ITB, BRIN dan IPB berhasil mengungkap spesies hibrida alami baru tanaman pemakan serangga dari Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, yang ternyata berawal dari pantauan di media sosial sejak 2024.

Spesies yang diberi nama Nepenthes xtaringkecil ini merupakan nothospecies atau hasil persilangan alami antara dua induk tangguh, yakni Nepenthes bicalcarata dan Nepenthes mirabilis. Temuan ini juga telah divalidasi dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Phytotaxa edisi Januari 2026.

Baca juga: Kelelawar Mamalia Pengontrol Biologis Malaria

"Kami menamakan ×taringkecil, karena pada bagian peristomenya terdapat sepasang gigi kecil berukuran panjang 0,5-0,8 mm. Sementara pada induknya, N. bicalcarata, panjang taringnya bisa mencapai 3 cm," ujar Kurator Herbarium Bandungense Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB Arifin Surya Dwipa Irsyam dalam keterangan di Bandung, Sabtu.

Selain memiliki gigi yang tereduksi, spesies ini menunjukkan adaptasi morfologi yang menarik. Berbeda dengan induknya, N. bicalcarata, yang biasanya memiliki sulur (tendril) berongga sebagai rumah semut, N. ×taringkecil justru tidak memiliki fitur tersebut.

Baik N. bicalcarata maupun N. ×taringkecil, sama-sama memiliki habitat yang sama-sama berada di kawasan hutan kerangas/gambut, namun memiliki bentuk kantong yang berbeda dimana N. bicalcarata berbentuk melebar/bulat, sementara N. ×taringkecil berbentuk silindris (mirip N. mirabilis).

Penemuan ini, disebut menjadi bukti kuat efektivitas citizen science atau peran masyarakat dalam ilmu pengetahuan.

Arifin mengakui bahwa informasi awal didapatkan dari rekan hobis dan pembudidaya, Nazila dan Rais, yang kemudian ditindaklanjuti secara ilmiah.

"Kecurigaan kami diperkuat oleh informasi warga lokal bahwa N. bicalcarata dan N. mirabilis tumbuh di lokasi yang sama," ucap Arifin.

Untuk memastikan keabsahan spesies, tim membagi peran secara spesifik, dimana M Rifqi Hariri (BRIN) melakukan analisis molekuler berbasis Internal Transcribed Spacer (ITS).

Baca juga: ITB gelar pameran, bangun kesadaran pentingnya bioinfomatika

Baca juga: ITB dan BRIN ungkap enam spesies baru tumbuhan endemik Indonesia

Kemudian, M Hisyam Fadhil (IPB) menangani penanaman sampel hidup dan ilustrasi botani. Sementara Arifin (ITB) menyusun deskripsi morfologi secara mendalam.

Hasil analisis genetik, akhirnya mengonfirmasi bahwa spesimen tersebut berkerabat dekat dengan N. mirabilis, namun membawa pengaruh fisik dari N. bicalcarata.

Penelitian yang didukung oleh skema Rumah Program BRIN tahun 2023 dan 2026 ini menegaskan bahwa kekayaan biodiversitas Indonesia di lahan gambut Kalimantan masih menyimpan banyak rahasia yang menunggu untuk diungkap melalui kolaborasi lintas institusi dan komunitas hobis.

Pewarta: Ricky Prayoga
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |