China masih yakin pemerintah Venezuela tetap berdaulat

1 month ago 19

Beijing (ANTARA) - Pemerintah China meyakini meski Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap Amerika Serikat (AS), tapi Caracas tetap dapat menangani urusan internalnya sesuai dengan konstitusi negara tersebut.

"China menghormati kedaulatan dan kemerdekaan Venezuela, dan percaya bahwa pemerintah Venezuela akan menangani urusan internalnya dengan benar sesuai dengan Konstitusi dan hukum negara tersebut," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian dalam konferensi pers di Beijing, Senin (5/1/2025).

Pernyataan itu merespons pertanyaan apakah China akan tetap mengimpor minyak dari Venezuela pasca serangan skala besar AS, penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores di Caracas, Sabtu (3/1), menerbangkannya ke New York dan kini ditahan di Metropolitan Detention Center, Brooklyn.

"Penggunaan kekuatan secara terang-terangan oleh AS terhadap Venezuela secara serius melanggar hukum internasional dan norma-norma dasar dalam hubungan internasional, melanggar kedaulatan Venezuela, dan mengancam perdamaian dan keamanan di kawasan Amerika Latin dan Karibia. China telah mengutuk hal ini," tegas Lin Jian.

Para pihak, kata Lin Jian, perlu menghormati hak Venezuela untuk secara independen memilih jalur pembangunan, dan berupaya untuk stabilitas dan pemulihan ketertiban di Venezuela.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Maduro dan Flores akan diadili atas dugaan keterlibatan dalam narko-terorisme dan dianggap menimbulkan ancaman, termasuk terhadap AS.

Maduro membantah seluruh tuduhan tersebut, sementara pemerintah Venezuela menyerukan pembebasan segera terhadap presiden dan istrinya.

Sementara itu, kegiatan ekspor minyak Venezuela diketahui lumpuh di tengah operasi militer AS di negara tersebut, menurut Reuters mengutip sejumlah sumber yang tidak bersedia disebutkan namanya.

Kelumpuhan itu akibat para kapten pelabuhan belum menerima permintaan izin keberangkatan bagi kapal-kapal bermuatan, demikian menurut sumber itu kepada kantor berita tersebut.

Sejumlah kapal pengangkut minyak mentah di Venezuela, yang dijadwalkan akan dikirim ke Amerika Serikat dan Asia, belum berlayar, kata Reuters mengutip data layanan pelacakan kapal TankerTrackers.

Sejumlah kapal tanker lain yang dijadwalkan akan memuat bahan bakar meninggalkan negara itu dalam keadaan kosong. Secara spesifik, tidak ada kapal tanker yang diisi muatan di pelabuhan minyak utama negara itu di Jose pada Sabtu.

Dengan mengutip beberapa sumber yang tidak disebutkan namanya, Reuters mencatat bahwa penghentian ekspor semacam itu dapat memaksa Venezuela mengurangi produksi minyak.

Sebelumnya, dengan mengutip data pelacakan kapal dan pialang maritim, Wall Street Journal melaporkan bahwa sebuah kapal tanker yang menuju Venezuela untuk mengangkut minyak telah mengubah haluan dan saat ini menuju Nigeria.

Sementara, empat kapal lainnya telah berhenti berlayar setelah Venezuela diserang oleh AS.

Baca juga: Kuba sebut 32 tentaranya tewas dalam serangan AS di Venezuela

Baca juga: Organisasi negara-negara Amerika akan gelar pertemuan bahas Venezuela

Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |