Bukan debu biasa: mitigasi kesehatan di tengah erupsi gunung api

2 weeks ago 6
Mitigasi kesehatan berarti tetap waspada tanpa panik dan melindungi diri tanpa meremehkan risiko. Sebab, abu yang tampak tipis di halaman tidak selalu berarti risikonya ikut tipis.

Jakarta (ANTARA) - Ketika gunung api meletus, perhatian publik umumnya terfokus pada kolom erupsi, awan panas, radius bahaya, dan jalur evakuasi.

Padahal, ada ancaman lain yang turun nyaris tanpa bersuara: hujan abu yang menyelimuti atap rumah, jalanan, fasilitas umum, hingga sumber air. Warnanya kelabu dan sekilas tampak seperti debu biasa. Di situlah masalahnya, abu vulkanik bukan debu biasa.

Secara geologis, abu vulkanik terdiri dari fragmen batuan, mineral, dan kaca vulkanik berskala mikroskopis (diameter di bawah dua milimeter). Abu ini bukan sisa pembakaran seperti abu kayu, melainkan material padat yang keras, tajam, dan abrasif. Partikel halusnya sangat mudah terbawa angin hingga puluhan kilometer dan rentan terhirup masuk ke dalam saluran pernapasan.

Mengingat Indonesia, menurut Badan Geologi dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), memiliki 127 gunung api aktif, masyarakat tidak hanya dituntut paham kapan harus mengungsi. Edukasi mengenai cara meminimalkan paparan abu vulkanik, baik saat erupsi berlangsung maupun pasca-bencana, menjadi krusial untuk melindungi kesehatan.

Dampak kesehatan akibat abu vulkanik sangat bervariasi pada setiap orang. Hal ini dipengaruhi oleh ukuran partikel, konsentrasi di udara, durasi paparan, komposisi kimia, kondisi cuaca, hingga tingkat kerentanan individu. Pada orang sehat, paparan singkat umumnya memicu iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, rasa tidak nyaman di dada, hingga napas terasa berat.

Namun, risikonya jauh lebih tinggi bagi penderita asma, bronkitis kronis, PPOK, dan penyakit kardiovaskular. Kelompok ini rentan mengalami sesak napas berat, mengi, serta peningkatan kebutuhan obat pelega. Selain itu, anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis membutuhkan perlindungan ekstra karena keterbatasan mereka dalam menghindari paparan maupun mengakses fasilitas kesehatan.

Mata menjadi salah satu organ yang paling cepat bereaksi. Partikel tajam abu dapat menyebabkan gatal, kemerahan, mata berair, hingga luka gores pada kornea. Karena itu, penggunaan lensa kontak sangat dilarang saat hujan abu dan wajib diganti dengan kacamata pelindung (goggles).

WHO juga mengingatkan bahwa erupsi mengganggu akses air bersih, pangan, serta layanan kesehatan, menjadikan krisis ini jauh lebih luas daripada sekadar masalah pernapasan dan mata perih.

Baca juga: Debu Krakatau Hujani Rumah Warga di Banten

Bahaya setelah langit kembali cerah

Salah satu kekeliruan yang paling sering terjadi adalah menganggap ancaman telah usai begitu hujan abu berhenti. Padahal, abu yang sudah mengendap sangat mudah terangkat kembali oleh angin, lalu lintas kendaraan, maupun aktivitas menyapu. Akibatnya, risiko paparan terus berulang meski aktivitas erupsi mulai mereda. Oleh sebab itu, tata cara pembersihan abu menjadi bagian vital dari mitigasi bencana.

Selama ini, pembagian masker kerap menjadi bentuk respons yang paling menonjol. Langkah ini memang penting, tetapi dapat memicu rasa aman palsu seolah ancaman otomatis mereda setelah memakai masker. Padahal, benteng perlindungan paling utama adalah meminimalkan paparan langsung dengan abu vulkanik.

Selama kondisi memungkinkan, masyarakat diimbau tetap berada di dalam ruangan yang aman, menutup rapat pintu dan jendela, serta membatasi aktivitas di luar rumah. Jika terpaksa beraktivitas di luar atau membersihkan endapan abu, gunakan respirator partikulat (seperti N95) dengan ukuran yang pas dan terpasang rapat.

Perlu diingat, respirator ini hanya menyaring partikel dan tidak mampu menahan gas beracun. Jika otoritas menginstruksikan evakuasi akibat ancaman gas berbahaya, awan panas, atau lahar, penggunaan masker bukanlah alasan untuk menunda mengungsi.

Selain itu, penggunaan respirator N95 dewasa tidak efektif bagi anak-anak karena ukurannya yang longgar. Penderita penyakit jantung dan paru kronis juga perlu berhati-hati karena hambatan bernapas saat menggunakan respirator rapat dapat memperburuk kondisi mereka.

Edukasi kesehatan masyarakat pun tidak boleh sebatas menyerukan "semua wajib pakai N95", melainkan harus mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan khusus setiap individu.

Baca juga: Abu Anak Krakatau sampai Bogor dan Sukabumi, ini penyebabnya

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |