BPOM: PLTS Atap Haleon dukung transisi energi berkelanjutan Indonesia

2 weeks ago 21

Jakarta (ANTARA) - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di pabrik Haleon Indonesia adalah praktik industri berkelanjutan yang sejalan dengan agenda transisi energi nasional dan didukung pihaknya melalui sejumlah langkah.

Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan di Jakarta, Jumat, keberlanjutan menjadi isu paling krusial di tengah tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, transformasi digital, hingga kepentingan ekonomi nasional.

Menurut dia, industri kesehatan memiliki tanggung jawab strategis karena beririsan langsung dengan kualitas hidup masyarakat.

“Sebagai sektor yang berperan langsung dalam menjaga kesehatan masyarakat sehari-hari, industri consumer health tentu memiliki tanggung jawab strategis untuk memastikan ketersediaan produk yang aman, bermutu, serta berkelanjutan," katanya.

Menurut dia, inisiatif pemanfaatan energi surya yang dilakukan Haleon Indonesia menunjukkan bahwa inovasi teknologi dapat berjalan seiring dengan kepatuhan regulasi dan perlindungan lingkungan.

Taruna mengatakan, BPOM secara konsisten mendukung industri yang mengedepankan praktik produksi ramah lingkungan, khususnya di bidang kesehatan. Dukungan tersebut diwujudkan melalui kepastian regulasi, penerapan praktik pembuatan yang baik (good manufacturing practices/GMP), hingga pengawasan yang mendorong industri berinovasi secara bertanggung jawab.

Baca juga: Kemdiktisaintek kolaborasi dengan ESDM percepat transisi energi RI

“BPOM mengapresiasi langkah Haleon dalam memanfaatkan teknologi baru yang ramah lingkungan. Ini adalah contoh nyata bagaimana industri kesehatan dapat berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan sekaligus menjaga mutu dan keamanan produk. Kami berharap langkah ini dapat diikuti oleh pelaku industri lainnya,” katanya.

PLTS Atap yang terpasang mencakup area seluas 2.382 meter persegi dengan 678 panel fotovoltaik berteknologi monocrystalline silicon berdaya tinggi. Dengan kapasitas terpasang sebesar 416,97 kWp, sistem ini diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 577.647 kWh energi hijau per tahun.

Energi ini mampu menyuplai 15 persen dari total kebutuhan energi pabrik. Implementasi ini juga diperkirakan dapat menurunkan emisi karbon hingga 449 ton CO₂ per tahun, setara dengan manfaat penyerapan karbon oleh lebih dari 7.460 pohon setiap tahunnya.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Direktur Haleon Indonesia Dhanica Dumo Mae-Tiu menyampaikan bahwa pemasangan PLTS Atap merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan. Komitmen dalam menghadirkan kesehatan sehari-hari yang lebih baik, tidak hanya melalui produk, tetapi juga melalui cara perusahaan beroperasi.

“Tujuan kami adalah menghadirkan kesehatan sehari-hari yang lebih baik dengan menjunjung nilai kemanusiaan, dan hal tersebut dimulai dari integritas cara kami beroperasi. Kami ingin masyarakat Indonesia merasakan manfaat, tidak hanya dari efektivitas produk kami, tetapi juga dari praktik produksi yang bertanggung jawab dan berkelanjutan di baliknya,” ujar Dhanica.

Melalui peresmian PLTS Atap ini, BPOM menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan industri dalam mendorong inovasi teknologi yang ramah lingkungan, khususnya di sektor kesehatan.

Tujuan bersama yang ingin dicapai adalah demi menciptakan industri yang berdaya saing, berkelanjutan, dan berdampak positif bagi masyarakat serta lingkungan secara global.

Baca juga: Perusahaan energi RI tegaskan komitmen capai NZE di WEF Davos
Baca juga: Pertamina ajak publik bergerak bersama dalam transisi energi

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |