Jakarta (ANTARA) - Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS Kesehatan mempermudah seorang petani asal Labuhanhaji Timur, Kabupaten Aceh Selatan, Zaimi (56) yang istrinya harus menjalani operasi kista di RSUD dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan.
Zaimi merupakan peserta JKN segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) yang didaftarkan oleh pemerintah daerah. Ia setia menemani sang istri yang hingga kini telah menjalani perawatan selama kurang lebih satu minggu di rumah sakit tersebut.
Dalam keterangannya di Jakarta pada Jumat, Zaimi mengemukakan proses pengobatan istrinya bermula dari fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) tempat dirinya terdaftar. Namun, setelah beberapa hari menjalani pengobatan, kondisi kesehatan sang istri belum menunjukkan perkembangan yang signifikan.
"Awalnya kami berobat ke puskesmas. Karena belum membaik, dokter kemudian memberikan rujukan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut," ujar dia.
Setelah dilakukan pemeriksaan di RSUD dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan, dokter menyampaikan bahwa istri Zaimi menderita penyakit kista dan harus segera menjalani tindakan operasi. Menurut Zaimi, proses rujukan hingga penanganan lanjutan berjalan lancar dan sesuai prosedur Program JKN.
Baca juga: Klaim BPJS Kesehatan 2025 Rp 201 T, naik 14,9 persen dari 2024
"Setelah diperiksa, dokter menjelaskan bahwa harus dioperasi. Alhamdulillah, tidak lama kemudian istri saya mendapatkan tindakan tersebut yang berjalan dengan lancar," tuturnya.
Ia mengungkapkan rasa syukurnya karena selama menjalani proses pengobatan mulai dari puskesmas hingga rumah sakit, ia tidak mengalami kendala berarti. Menurutnya, proses administrasi cukup mudah, pelayanan tenaga kesehatan baik, serta kondisi ruang perawatan rumah sakit terasa nyaman.
Sebagai seorang petani, Zaimi mengaku keberadaan BPJS Kesehatan sangat meringankan beban keluarganya. Ia mengakui bahwa selama proses perawatan dan operasi, dirinya tidak dikenakan biaya sepeser pun.
"Kalau tidak ada BPJS Kesehatan, saya tidak tahu harus bagaimana. Biaya berobat sekarang sangat mahal, sementara penghasilan kami terbatas," paparnya.
Saat ini, kondisi sang istri berangsur membaik dan masih menjalani masa pemulihan sambil menunggu keputusan dokter untuk diperbolehkan pulang ke kampung halaman. Zaimi berharap Program JKN terus berlanjut dan semakin banyak diperluas ke masyarakat sehingga bisa memanfaatkan program tersebut untuk mendapatkan layanan kesehatan yang layak dan terjangkau.
"Sebagai rakyat kecil, kami sangat terbantu. Program ini benar-benar menolong masyarakat seperti kami. Harapan saya, BPJS Kesehatan tetap ada dan pelayanannya terus dipertahankan agar masyarakat tidak takut lagi berobat," demikian Zaimi.
Baca juga: BPJS rilis 126 juta data sampel tingkatkan mutu kesehatan nasional
Baca juga: Wamenkes ingatkan pasien darurat harus ditangani RS, tak perlu rujukan
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































