Bontang Kuala, kehangatan hidup kampung nelayan terapung

2 hours ago 9

Samarinda (ANTARA) - Di pesisir Kota Bontang, Kalimantan Timur, berdiri Kelurahan Bontang Kuala di Kecamatan Bontang Utara, sebuah perkampungan yang menolak tunduk pada daratan dengan denyut kehidupan sehari-hari warganya yang hangat di atas riak Selat Makassar.

Berjalan menyusuri gang-gang kampung terapung di kelurahan ini bukan sekadar berpindah tempat, melainkan sebuah petualangan sensorik. Di bawah pijakan kaki, derit jembatan ulin menceritakan sejarah panjang daya tahan masyarakat pesisir. Di sekeliling, aroma khas laut berpadu selaras dengan wangi terasi udang yang dijemur, kepak sayap burung di rimbunnya mangrove, serta senyum ramah para nelayan.

Bontang Kuala bukan sekadar destinasi pariwisata unggulan. Kawasan ini adalah ruang hidup yang merayakan harmoni manusia dengan alam, ketangguhan adat leluhur, serta kehangatan ikatan komunitas.

Bontang Kuala telah ada sebagai perkampungan nelayan tradisional sejak sekitar tahun 1789 di bawah naungan Kesultanan Kutai. Wilayah ini kemudian berkembang menjadi pusat pemerintahan lokal pada masa kolonial Belanda pada 1920, ditandai dengan berdirinya bangunan-bangunan penting seperti kantor wedana pada 1923.

Lurah Bontang Kuala, Ardiansyah, menjelaskan bahwa kelurahan ini memiliki tata ruang pemukiman yang unik. Kawasan ini terbagi menjadi 11 Rukun Tetangga (RT) yang mengapung di atas perairan dan sembilan RT yang berada di daratan. Kelurahan seluas 627 hektare ini terus berkembang menjadi kawasan pemukiman pesisir yang tumbuh pesat di Bontang.

Berbeda dengan jalanan perkotaan pada umumnya yang bising oleh deru kendaraan, atmosfer di Bontang Kuala dipenuhi kedamaian. Hal ini karena kendaraan roda empat atau mobil dilarang melintas di kawasan terapung ini.

"Seluruh mobil pengunjung maupun warga harus diparkir di area luar, tepat di depan gerbang utama. Ini membiarkan lorong-lorong kayu ulin menjadi ruang yang aman bagi pejalan kaki dan pengendara roda dua," terang lurah setempat.

Jalan utama dan gang-gang di perkampungan ini berupa jembatan kayu ulin panjang yang membentang di atas air laut, sebuah lanskap yang mengingatkan pada struktur jembatan ulin di daerah hulu Sungai Mahakam. Kayu ulin dijuluki kayu besi karena kekuatannya yang justru semakin kokoh ketika terendam air laut, menjadikannya fondasi utama kehidupan warga pesisir.

Ketika melongok ke kolong rumah panggung nelayan saat air laut surut, terlihat jelas tiang-tiang ulin penyangga rumah yang berselimut kerang liar dan teritip. Kepiting-kepiting kecil berlarian di antara tanaman bakau di sela-sela jembatan, sementara air muara sungai yang berwarna kuning kecokelatan mengalir tenang menuju laut lepas.

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |