BNN: RI terapkan pendekatan seimbang hadapi ancaman narkotika

4 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Badan Narkotika Nasional (BNN) RI menyebut pemerintah Indonesia menerapkan pendekatan yang seimbang dalam menghadapi ancaman narkotika, dalam The Colombo Plan Drug Advisory Program (CPDAP) National Secretariat Meeting 2026 yang digelar di Bali, Selasa (28/4).

Kepala BNN RI Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto mengatakan pendekatan dimaksud, yakni antara pengurangan pasokan (supply reduction) dan pengurangan permintaan (demand reduction).

"Melalui prinsip War on Drugs for Humanity, Indonesia menegaskan komitmen dalam memberantas jaringan kejahatan narkotika sekaligus memastikan pendekatan yang humanis dan berbasis hak asasi manusia bagi para penyalahguna melalui program rehabilitasi," kata Komjen Pol. Suyudi, seperti dikutip dari keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.

Dalam aspek pencegahan, BNN terus memperkuat program yang berfokus pada perlindungan anak dan generasi muda melalui inisiatif Ananda Bersinar.

Ia menjelaskan program tersebut mencakup integrasi edukasi anti-narkoba dalam kurikulum pendidikan, penguatan peran keluarga, pelatihan keterampilan hidup (life skills), serta pengembangan program peer education atau pendidikan setara di kalangan remaja.

Selain itu, upaya pencegahan juga diperluas melalui kampanye media sosial, pengembangan pembelajaran daring bagi petugas, serta pemberdayaan masyarakat melalui program Desa Bersih Narkotika (Bersinar).

Suyudi pun menyampaikan Indonesia merasa terhormat dipercaya menjadi tuan rumah pertemuan penting CPDAP.

Dia menegaskan forum tersebut merupakan momentum strategis untuk memperkuat komitmen bersama dalam menghadapi ancaman narkotika yang semakin kompleks, termasuk maraknya peredaran narkotika sintetis, pemanfaatan jalur laut, serta penggunaan platform digital untuk aktivitas ilegal.

The CPDAP National Secretariat Meeting 2026 mengusung tema Enhancing Regional Cooperation for Effective and Inclusive Drug Use Response, yang menekankan pentingnya penguatan kerja sama regional dalam menghadapi tantangan permasalahan narkotika yang semakin kompleks.

Kegiatan dihadiri oleh 50 delegasi dari negara-negara anggota CPDAP yang berasal dari kawasan Asia Selatan, Asia Tenggara, serta Asia-Pasifik dan Saudi Arabia.

Kehadiran para delegasi diharapkan dapat memperkuat kolaborasi internasional, pertukaran informasi, serta penyusunan strategi bersama dalam menghadapi permasalahan narkotika global.

Pertemuan tahun ini menghadirkan format berbeda dibandingkan sebelumnya, dengan fokus pada diskusi panel yang membahas pengurangan permintaan narkotika, pengurangan pasokan narkotika, serta berbagai mekanisme pendukung seperti kerja sama internasional, kontribusi bantuan, inisiatif berbagi pembiayaan, dan kolaborasi antar lembaga.

Setelah rangkaian pertemuan selama dua hari, para delegasi juga dijadwalkan mengikuti program Cultural Visit pada 30 April 2026 ke Istana Kepresidenan Tampaksiring dan Desa Panglipuran sebagai bagian dari pengenalan budaya dan praktik lokal Indonesia.

BNN berharap dari pertemuan ini tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga menghasilkan rekomendasi yang konkret, inovatif, dan implementatif guna memperkuat respons global terhadap permasalahan narkotika.

Baca juga: BNN sebut teknologi digital pengaruhi pola peredaran gelap narkotika

Baca juga: BNN sebut pola peredaran narkotika berkembang pesat dan sulit dideteksi

Pewarta: Agatha Olivia Victoria
Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |