Pakar: Wacana penghapusan prodi terlalu dini dan kurang tepat

3 hours ago 5

Bengkulu (ANTARA) - Pakar Kebijakan Publik dan Ekonomi Universitas Dehasen Bengkulu Dr Anzori Tawakal menilai wacana penghapusan program studi terlalu dini sebelum ada analisa mendalam dan kurang tepat jika diterapkan karena belum mempertimbangkan fungsi pendidikan tinggi secara menyeluruh.

"Masih terlalu dini menilai suatu program studi atau prodi tidak relevan lalu dihapus karena pendidikan tidak hanya untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja tetapi juga membangun pengetahuan dan kemampuan manusia,” kata Dr Anzori Tawakal di Bengkulu, Kamis.

Dia mengatakan tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dalam arti luas yang mencakup pengembangan pengetahuan, kemampuan berpikir, serta keterampilan individu dalam berbagai bidang.

Baca juga: Rektor Unesa: Penutupan prodi perlu kajian mendalam

Menurut dia, tidak semua program studi dirancang untuk langsung terserap ke dunia kerja karena sebagian memiliki orientasi jangka panjang dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Beberapa prodi, lanjutnya, memiliki peran penting dalam mencetak peneliti, akademisi, serta pemikir yang berkontribusi terhadap kemajuan ilmu dan peradaban.

Lebih lanjut, dia mengatakan lulusan perguruan tinggi juga memiliki pilihan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi seperti magister dan doktoral sesuai bidang keilmuannya.

Selain itu, mekanisme pasar dinilai lebih tepat dalam menentukan keberlangsungan suatu program studi berdasarkan minat mahasiswa dan kebutuhan masyarakat.

Baca juga: BRIN: Rencana penutupan prodi harus disertai transformasi kurikulum

Dia menjelaskan prodi yang tidak diminati secara alami akan berkurang dan bahkan tereliminasi tanpa harus dilakukan penutupan melalui kebijakan.

Anzori menilai sebaiknya fokus lebih ditujukan pada peningkatan kualitas pendidikan dan standar mutu agar menghasilkan lulusan yang kompeten dan berintegritas.

Pewarta: Boyke Ledy Watra
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |