Kota Padang (ANTARA) - Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sumatera Barat (Sumbar) mengungkapkan anomali kenaikan harga sejumlah barang yang kerap terjadi menjelang masuknya Hari Raya Idul Fitri.
"Ini memang anomali di Indonesia kalau Ramadhan harga-harga pasti naik. Padahal, seharusnya turun karena konsumsi kita turun," kata Kepala Kantor Perwakilan BI Sumbar Mohamad Abdul Majid Ikram di Kota Padang, Senin.
Namun, ujar dia, ada pengecualian satu atau dua minggu menjelang Lebaran dimana biaya transportasi biasanya kerap mengalami lonjakan atau kenaikan. Hal ini berbanding lurus dengan tradisi mudik yang setiap tahunnya dilakukan masyarakat di Tanah Air.
"Tapi harga barang dan makanan seharusnya tidak boleh naik," ujar dia.
Ia menduga kenaikan harga barang dan makanan di pasaran salah satunya terjadi karena ada mindset bahwa setiap menjelang Lebaran kebutuhan pokok dan sejenisnya otomatis mengalami kenaikan.
Apalagi, saat ini Sumbar dalam masa transisi pemulihan pascaterdampak bencana yang terjadi di akhir November 2025. Situasi itu dikhawatirkan menjadi alasan atau celah bagi pihak tertentu untuk menaikkan harga kepada masyarakat.
Khusus di Sumbar BI setempat sudah melakukan beberapa intervensi di antaranya melakukan pasar murah yang menjual berbagai kebutuhan pokok masyarakat dengan harga terjangkau salah satunya beras. Kerja sama dengan Bulog setempat diharapkan menjadi solusi dalam mengendalikan kenaikan harga serta mencegah inflasi.
Selain itu, kata dia, BI Sumbar bersama dinas terkait juga mendatangi sejumlah pelaku usaha untuk mengingatkan agar kenaikan harga kebutuhan harian dalam ambang batas kewajaran sehingga tidak terlalu membebani masyarakat.
Baca juga: Celios: Inflasi Maret dipengaruhi libur Lebaran dan konsumsi BBM
Baca juga: Mendag: Harga bahan pokok stabil jelang Lebaran
Baca juga: Bapanas perkuat intervensi jaga stabilitas harga pangan jelang Lebaran
Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































