Basri Marzuki, mengabadikan cerita dari balik lensa

1 day ago 3

Palu (ANTARA) - Dunia pers Sulawesi Tengah kehilangan salah satu sosok terbaiknya. Basri Marzuki, jurnalis senior, pewarta foto, dan Ahli Pers Dewan Pers yang akrab disapa BMZ, berpulang pada Jumat (19/6/2026) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUS) Anutapura Palu.

Lahir di Maros, Sulawesi Selatan, pada 21 Juli 1968, Basri Marzuki mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk dunia jurnalistik dan menjadi bagian penting dari perjalanan pers di Sulawesi Tengah.

Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan komunitas pers di Sulawesi Tengah.

Bagi banyak jurnalis, almarhum Basri bukan hanya rekan kerja, tetapi juga sosok yang hadir sebagai saksi berbagai peristiwa penting di daerah ini, melalui kameranya, melalui kesetiaannya pada fakta, dan melalui ketekunan yang tidak pernah surut.

Dedikasi itu bahkan tampak hingga hari-hari terakhirnya. Sehari sebelum berpulang, ia masih berada di lapangan meliput kondisi pascagempa di Kabupaten Sigi. Di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih, ia tetap menjalankan tugas yang telah ia tekuni selama puluhan tahun.

Beberapa jam sebelum mengembuskan napas terakhir, ia juga masih memotret kegiatan ritual adat di Kabupaten Sigi. Di tengah aktivitas itu, ia pingsan dan segera dilarikan ke RSUD Anutapura Palu, tempat ia kemudian berpulang.

Perjalanan jurnalistiknya dimulai dari Harian Mercusuar. Dari sana, ia tumbuh sebagai wartawan yang tekun dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Kariernya berlanjut di Radar Sulteng (kini Radar Palu), meliput beragam isu mulai dari ekonomi, pemerintahan, sosial, hingga kemanusiaan.

Kemampuan dan ketekunannya kemudian membawanya bergabung dengan LKBN ANTARA sebagai pewarta foto di Palu. Sejak itu, namanya semakin dikenal sebagai sosok yang selalu hadir di tengah peristiwa-peristiwa penting di Sulawesi Tengah.

Dari balik lensanya, ia merekam denyut kehidupan Sulawesi Tengah. Ia hadir di tengah keramaian dan kesunyian, di tengah perayaan maupun duka, mengabadikan momen-momen yang kemudian menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat.

Gempa, banjir, aktivitas masyarakat, pembangunan daerah, hingga berbagai peristiwa yang membentuk perjalanan Sulawesi Tengah pernah terekam melalui kameranya. Banyak foto yang dihasilkannya menjadi dokumentasi penting yang tidak hanya bernilai jurnalistik, tetapi juga menjadi arsip visual sejarah daerah.

Kemampuan dan ketekunannya di bidang fotografi membuat karya-karyanya dikenal luas. Dari Kantor Berita Nasional ANTARA, foto-foto yang dihasilkannya tidak hanya menjadi sumber informasi bagi publik, tetapi juga merekam berbagai peristiwa penting yang terjadi di Sulawesi Tengah dan wilayah sekitarnya.

Di balik berbagai penugasan dan capaian profesionalnya, almarhum dikenal sebagai sosok yang sederhana, ramah, dan mudah bergaul.

Kehadirannya di lapangan tidak hanya dihormati karena kemampuan dan pengalamannya sebagai pewarta foto, tetapi juga karena sikapnya yang terbuka terhadap siapa saja.

Kepala Biro ANTARA Sulawesi Tengah Andilala mengenang almarhum sebagai figur yang dikenal luas dan memiliki hubungan baik dengan banyak kalangan.

Meski baru mengenalnya sejak bertugas di Sulawesi Tengah pada Januari 2023, Andilala menilai almarhum Basri Marzuki merupakan sosok yang ramah dan disegani, baik di lingkungan ANTARA maupun di kalangan pewarta foto.

“Almarhum cukup dikenal baik dan ramah, serta disegani baik di lingkungan Biro ANTARA Sulteng maupun di kalangan teman-teman jurnalis foto,” ujarnya.

Menurut Andilala, sosok almarhum bahkan telah menjadi bagian dari identitas ANTARA Sulawesi Tengah karena hampir setiap orang yang berkecimpung di dunia jurnalistik mengenalnya.

Salah satu kenangan yang membekas baginya adalah saat mendampingi Basri Marzuki dalam pelatihan jurnalistik yang digelar Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan pada Agustus 2023.

Dalam kegiatan itu, Basri membagikan pengetahuan mengenai teknik dasar fotografi kepada peserta, sementara Andilala bersama Santoso memberikan materi teknik penulisan berita.

Kenangan lain hadir saat keduanya mengikuti Media Gathering PT Vale di Sorowako, Sulawesi Selatan, pada Juli 2025 bersama puluhan jurnalis dari Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan.

“Dari situ saya kembali mengenal sosok almarhum yang tidak hanya jago foto, tetapi juga jago dalam bergaul, sehingga siapa pun cukup mengenal beliau,” kata Andilala.

Kesan mendalam juga datang dari rekan kerja sebagai sesama Pewarta Foto di Kantor Berita ANTARA Biro Sulawesi Tengah, Hamzah. Baginya, almarhum Basri Marzuki adalah sosok yang menunjukkan dedikasi tinggi terhadap profesi yang dicintainya.

“Pak Basri adalah orang yang sangat berdedikasi. Dalam bekerja beliau selalu total, selalu berusaha memberikan hasil terbaik, dan tidak pernah mengeluh meski harus menghadapi berbagai tantangan di lapangan. Beliau adalah sosok yang selalu ingin memastikan tugas jurnalistik dijalankan dengan baik,” ujarnya.

Menurut Hamzah, dedikasi itu tidak hanya terlihat dalam pekerjaannya sebagai pewarta foto, tetapi juga dalam kehidupan pribadinya sebagai kepala keluarga.

Di luar aktivitas jurnalistik, almarhum Basri Marzuki juga aktif dalam organisasi profesi. Ia pernah menjadi Dewan Etik dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu dan dipercaya memimpin Pewarta Foto Indonesia (PFI) Palu.

Dari ruang-ruang organisasi itu, ia turut memperjuangkan profesionalisme dan kebebasan pers, sekaligus menjadi ruang belajar bagi banyak jurnalis muda.

Bagi generasi yang lebih muda, ia bukan sosok yang berjarak. Ia mudah diajak berdiskusi, tidak pelit berbagi pengalaman, dan selalu terbuka terhadap siapa pun yang ingin belajar.

Pengalaman panjang dan integritas yang dijaganya selama berkarier kemudian mengantarkannya dipercaya sebagai Ahli Pers Dewan Pers.

Amanah tersebut menjadi salah satu bentuk pengakuan atas dedikasi dan komitmennya terhadap nilai-nilai jurnalistik.

Kini, Basri Marzuki telah berpulang. Namun jejaknya tetap hidup dalam setiap foto yang ia hasilkan, dalam peristiwa yang pernah ia abadikan, dan dalam ingatan orang-orang yang pernah bekerja dan belajar bersamanya.

Lensa itu kini telah terpejam. Namun cerita-cerita yang pernah direkamnya akan terus hidup dan dikenang, menjadi bagian dari memori Sulawesi Tengah yang tak mudah dilupakan.

Editor: Sri Haryati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |