Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Asosiasi Game Indonesia (AGI) Shafiq Husein mengatakan pembatasan akses pada gim yang tidak dibuat untuk anak-anak perlu peran dari orang tua sebagai ‘pintu’ pertama mencegah anak terpapar konten gim yang dilabel negatif atau tidak sesuai usia.
“Mau regulasi ini dibuat sebagaimana ketatnya, kontrol paling besar itu adalah adanya di orang tua,” kata Shafiq dalam diskusi Menciptakan Ekosistem Gim yang Sehat, di Jakarta, Rabu.
Ia mengatakan kebanyakan game yang dibuat oleh pengembang game baik lokal maupun luar negeri sering kali menyasar pada target pasar 16 tahun ke atas. Sementara regulasi PP Tunas yang membatasi akun game online untuk anak di bawah 16 tahun.
Selain itu, kebanyakan game online juga memerlukan akses pembayaran melalui perbankan yang secara umum tidak dimiliki anak di bawah usia 16 tahun yang belum memiliki pekerjaan dan penghasilan.
Baca juga: AGI harap IGRS dapat tangkal konten radikalisme dalam game anak
Shafiq mengatakan, penerapan regulasi yang ada sekarang juga perlu peran besar dari orang tua yang menjadi pintu pertama saat anak mulai memegang gawai dan akhirnya memainkan game yang tidak sesuai usia.
Bahkan jika pintu akses game ditutup, anak akan tetap terpapar konten yang tidak sesuai usianya karena kurangnya pengawasan orang tua saat anak sudah menggenggam gawai di tangannya.
“Regulasinya menurut aku juga memang harus benar-benar digodok bersama ya. Tidak hanya dari kepentingan satu pihak doang. Kita teman-teman di industri pun juga aware kok bahwa kita juga tidak mau generasi penerus bangsa ini jadinya carut-marut,” kata Shafiq.
Ia mengatakan PP Tunas tidak bisa hanya mengatur regulasi pada gim saja yang bisa menjadi label bahwa bermain gim adalah konotasi negatif. Shafiq mewakili AGI mengatakan juga ingin melindungi anak dari adiksi gim yang sangat nyata, namun perlu peran orang tua untuk menekan tingkat adiksi tersebut dengan pembatasan secara pribadi.
Shafiq mengatakan seharusnya PP Tunas juga menerapkan aturan untuk orang tua dalam membatasi pemberian gawai atau akses gim agar mencegah adiksi pada anak.
Ia juga berharap adanya PP Tunas dan regulasi lain tidak serta merta menghambat proses kreatif pengembang gim lokal yang masih merintis dan juga tidak menutup pintu gim luar masuk ke Indonesia sebagai pasar besar konsumsi gim di Asia Tenggara.
Baca juga: Tren gim indie buka peluang pengembang lokal tembus pasar global
Baca juga: AGI sebut gim bertema naratif banyak diminati di Indonesia
Baca juga: AGI usulkan pendekatan berdasar edukasi untuk pelarangan gim
Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































