Jakarta (ANTARA) - “Beli aja dulu, bayar belakangan” menjadi tren yang kian akrab di tengah kehidupan masyarakat digital.
Kemudahan transaksi tanpa perlu uang tunai membuat layanan paylater semakin diminati, terutama di kalangan pekerja muda dan generasi produktif.
Fitur paylater kini hadir hampir di setiap platform belanja, perjalanan, hingga layanan hiburan. Kemudahan ini memberi ruang bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan, hanya dengan beberapa klik.
Namun, di balik kemudahan tersebut, risiko penumpukan utang juga mengintai. Tanpa perencanaan matang, paylater yang awalnya membantu justru dapat menjadi beban finansial jangka panjang, karena berpotensi menjerat pengguna pada masalah utang berkepanjangan.
Perencana keuangan Rista Zwestika mengingatkan bahwa penggunaan paylater perlu dibarengi pemahaman yang kuat tentang utang, kemampuan membayar, serta kesiapan menghadapi risiko.
Ia juga menyebut kunci utama menggunakan paylater secara sehat adalah memahami jenis utang yang diambil.
Kepada ANTARA, ia menjelaskan bahwa utang terbagi menjadi dua, yakni utang produktif dan utang konsumtif. Utang produktif adalah utang yang saat diambil justru menghasilkan pemasukan. Sementara utang konsumtif tidak memberikan tambahan penghasilan dan hanya memenuhi keinginan sesaat.
“Tidak ada pemasukan yang dihasilkan dari utang konsumtif tersebut. Flexing tidak serta-merta membuat seseorang bertambah income-nya,” jelasnya.
Baca juga: Jangan anggap sepele, ini dampak telat bayar Shopee PayLater
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































