Agar martabat masyarakat tak tergerus bansos

3 weeks ago 16

Jakarta (ANTARA) - Bantuan sosial (bansos) yang rutin digulirkan pemerintah perlahan menjadi bagian dari ritme hidup sebagian warga. Ia ditunggu seperti musim panen kecil, dibicarakan di teras rumah, bahkan kadang disiasati agar tetap kebagian.

Niat baik negara sebagai jaring pengaman sosial, jika tak disertai arah pemberdayaan, berisiko menciptakan ketergantungan, lantas menyuburkan mental menengadah yang pelan-pelan mengikis martabat.

Dalam situasi hidup yang kian kompleks, kehadiran negara sering kali diuji, bukan oleh wacana besar, melainkan oleh kebutuhan paling dasar warganya.

Berbagai program bantuan sosial hadir, sebagai bentuk kepedulian pemerintah dalam memastikan masyarakat tetap bertahan, terutama mereka yang berada di lapisan paling rentan. Bansos menjadi penopang di tengah harga yang naik, pekerjaan yang tak selalu pasti, dan situasi ekonomi yang mudah berubah.

Bagi banyak keluarga, bantuan ini bukan sekadar angka atau paket. Ia menjelma penenang sementara, ruang bernapas agar dapur tetap mengepul dan anak-anak tetap bersekolah.

Negara, melalui bansos, berupaya menjalankan perannya sebagai pelindung sosial, memastikan tidak ada warga yang benar-benar terjatuh tanpa pegangan. Dalam konteks ini, bansos adalah ikhtiar kemanusiaan yang patut diapresiasi.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa bansos juga telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat. Ia hadir dalam percakapan, dalam penantian, bahkan dalam perencanaan rumah tangga. Kapan cair, apa bentuknya, dan siapa yang berhak menerimanya, menjadi topik yang akrab. Di sinilah bansos tak lagi semata kebijakan, melainkan ikut membentuk ritme hidup dan kebiasaan sosial.

Pemerintah tentu menyadari bahwa bantuan bukan tujuan akhir. Bansos dirancang sebagai jaring pengaman, bukan lantai permanen tempat masyarakat berdiri selamanya. Ia dimaksudkan untuk menopang, bukan menggantikan daya juang warga.

Di tengah niat baik dan skala kebutuhan yang besar, tantangan selalu menyertai: bagaimana memastikan bantuan benar-benar menguatkan, bukan sekadar menenangkan.

Sebab dalam masyarakat yang sehat, bantuan idealnya berjalan beriringan dengan upaya membangun kemandirian.

Negara hadir, keluarga tetap berperan, dan martabat masyarakat dijaga bersama. Dari titik inilah penting untuk terus menimbang, agar bansos tak hanya menyelamatkan hari ini, tetapi juga menyiapkan hari esok.

Membentuk kebiasaan

Di luar niat baik dan fungsi perlindungannya, bansos juga membawa konsekuensi sosial yang jarang dibicarakan secara terbuka: ia pelan-pelan membentuk kebiasaan. Bukan dalam hitungan hari atau bulan, melainkan melalui pengulangan yang konsisten.

Bantuan yang semula dimaksudkan sebagai penopang sementara, lama-kelamaan dapat dibaca sebagai pola hidup yang dinanti.

Dalam kajian sosiologi, Pierre Bourdieu menyebut kebiasaan yang terbentuk melalui pengulangan berubah menjadi sebagai habitus. Ia bekerja senyap, membentuk cara berpikir, merespons, dan memilih, tanpa selalu disadari.

Dalam konteks bansos, habitus itu dapat muncul dalam bentuk gaya hidup menunggu: menyesuaikan ritme hidup dengan jadwal bantuan, bukan dengan penguatan kapasitas diri.

Bansos pun masuk ke keseharian. Jadwal pencairan menjadi penanda waktu, antrean menjadi pemandangan yang lumrah, dan daftar penerima menjadi topik obrolan rutin.

Dari sini, bantuan tak lagi semata kebijakan negara, melainkan bagian dari "gaya hidup" sosial. Cara orang berbincang, berharap, bahkan merencanakan pengeluaran rumah tangga, ikut dipengaruhi olehnya.

Psikologi sosial menyebut kondisi ini sebagai learned dependency, situasi ketika individu atau kelompok belajar bahwa solusi atas kesulitan selalu datang dari luar.

Bukan tidak mampu berusaha, tetapi karena pengalaman berulang mengajarkan bahwa menunggu sering kali lebih aman daripada mengambil risiko. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat menyuburkan kemalasan kolektif.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |