Warga Sekumur desa yang hilang butuh benih palawija dan pakaian Muslim

1 week ago 5

Aceh Tamiang, Aceh (ANTARA) - Warga Desa Sekumur di Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, desa yang hilang akibat banjir besar yang melanda wilayah itu membutuhkan benih palawija serta pakaian Muslim agar dapat kembali beraktivitas dan beribadah menyambut bulan suci Ramadhan 2026.

Datok Penghulu atau Kepala Desa Sekumur Sofyan Iskandar mengatakan seluruh warga desanya membutuhkan benih palawija dan padi agar dapat kembali bercocok tanam, mengingat kebun sawit dan karet mereka rusak total akibat banjir besar.

"Harapan kami kepada pemerintah untuk bisa membantu desa kami, masyarakat kami dengan bibit palawija biar bisa masyarakat kami bercocok tanam seperti kangkung, bibit bayam, bibit padi, biar masyarakat kami ada berkegiatan," kata Sofyan ditemui ANTARA di Aceh Tamiang, Sabtu (24/1).

Ia menegaskan masyarakat Sekumur tidak ingin terus bergantung pada bantuan, melainkan berupaya bangkit melalui kerja dan kemandirian agar kehidupan perlahan pulih setelah desa mereka terdampak parah banjir.

Baca juga: Trauma healing anak warnai pemulihan pascabencana di Aceh Tamiang

"Karena kami yakin dan percaya tidak selamanya kami masyarakat Sekumur bisa bergantung dengan tangan di bawah," ucapnya.

"Jadi kalaupun kami dikasih bibit palawija setidaknya kami masyarakat Sekumur bisa berkegiatan cari keringat. Kalau tidak kami yang sudah pasti pagi keluar dari tenda (pengungsi) pasti merenung, tidak tahu kegiatan apa pun," tambahnya.

Datok Penghulu atau Kepala Desa Sekumur Sofyan Iskandar menjawab pertanyaan ANTARA di temui di Aceh Tamiang, Sabtu (24/1/2026). ANTARA/Harianto

Kebutuhan mendesak lainnya adalah pakaian Muslim untuk ibadah, karena seluruh warga kehilangan harta benda. Mereka berharap dapat menyambut Ramadhan dengan layak meski hidup serba terbatas di tengah kondisi darurat pascabanjir.

"Mungkin orang bertanya tentang Kampung Sekumur, apa yang dibutuhkan, kami masyarakat Sekumur setidaknya kami menyambut bulan suci Ramadhan ini kami butuh baju Muslim untuk kami beribadah. Kalau sarung insya Allah kami sudah mencukupi tapi baju Muslim untuk beribadah masih kurang," ucapnya.

Desa Sekumur dinyatakan sebagai kampung yang hilang setelah banjir besar menghanyutkan hampir seluruh permukiman, menyisakan delapan rumah rusak parah dari 276 kepala keluarga (KK) dengan 1.232 jiwa warga terdampak.

Sofyan menyebut seluruh warga terdampak dan rumah hanyut dibawa arus, sementara masyarakat kini bertahan di tenda pengungsian dengan logistik mencukupi, namun tanpa aktivitas ekonomi harian sama sekali.

Baca juga: Pacu ekonomi, infrastruktur jembatan di Tapanuli Tengah terus dikebut

"Masyarakat memang saat ini tergantung dengan bantuan karena semua pertanian masyarakat habis. Rata-rata di sini bertani sawit dan karet. Kebun karet dan kebun sawit semuanya sudah habis, 98 persen habis dibawa banjir," bebernya.

Sejumlah alat berat di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (24/1/2026). ANTARA/Harianto

Pembersihan pascabanjir mulai dilakukan dengan dukungan ekskavator Kementerian Pekerjaan Umum dan BNPB, membuka akses jalan desa, membersihkan lumpur, serta bangunan vital seperti masjid, sekolah, serta puskesmas pembantu yang rusak berat dan fasilitas lainnya.

"Untuk awal yang sudah kita lihat sudah mulai masuk ekskavator dari Kementerian PU dan BNPB sudah mulai masuk sekitar lima unit sekarang. Mungkin akan disusul alat berat capit begitu tiga unit," ucapnya.

Selain itu, ia menuturkan masjid menjadi prioritas utama dibersihkan warga agar shalat Jumat kembali terlaksana, mengingat seluruh masyarakat Sekumur beragama Islam dan menjunjung kewajiban ibadah meski lumpur dan fasilitas rusak pascabanjir.

Baca juga: Pamsimas masyarakat Tanah Datar berangsur pulih setelah bencana

Untuk jangka panjang, pemerintah desa berharap pembangunan hunian sementara segera direalisasikan agar warga tidak menjalani Ramadhan di tenda.

Tiga bocah duduk depan tenda pengungsian di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (24/1/2026). ANTARA/Harianto

Amhar (50), warga Desa Sekumur menceritakan detik-detik awal banjir saat air mulai naik ke rumah panggung miliknya. Ia sempat menyelamatkan barang ke loteng sebelum membawa istri dan anak mengungsi.

Setelah memastikan keluarga aman di kebun sawit yang lebih tinggi, Amhar kembali ke rumah. Namun, air sudah memenuhi bangunan sehingga ia terpaksa kembali ke lokasi pengungsian bersama warga lain.

Saat mengungsi ke perbukitan, Amhar hanya membawa barang-barang penting. Kelambu menjadi prioritas utama untuk melindungi keluarga dari nyamuk, disusul kompor dan beras sebagai kebutuhan dasar bertahan hidup.

Beberapa hari kemudian, Amhar turun kembali ke lokasi rumahnya. Ia membangun atap sederhana dari sisa material agar bisa kembali menempati lahan tersebut sambil menunggu bantuan datang.

Amhar mengungkapkan rumahnya rusak total dan hanyut diterjang banjir. Menjelang Ramadhan, ia berharap listrik segera masuk ke Desa Sekumur agar warga dapat menjalani aktivitas dan ibadah dengan lebih layak.

Baca juga: Agam butuh 1.744 hunian tetap bagi penyintas bencana
Baca juga: Pascapembersihan kayu, rehabilitasi Ponpes Darul Mukhlisin dikebut

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |