Palembayan, Agam (ANTARA) - Warga terdampak bencana yang tinggal di hunian sementara (huntara) Kayu Pasak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, tetap mempertahankan Tradisi Marandang atau memasak rendang sebagai hidangan wajib pada hari pertama Lebaran, meski dalam kondisi serba terbatas.
Di lokasi huntara, warga memanfaatkan peralatan memasak sederhana dari bantuan, seperti kompor gas dan panci kecil, untuk mengolah rendang. Aktivitas marandang dilakukan di dapur masing-masing.
“Marandang itu adalah tradisi di kami kalau tidak marandang, ya sedih hati, karena biasa marandang tiap tahun. Kalau tahun ini tidak, rasa tidak hari raya,” kata Imis.
Wanita berusia 37 tahun itu menyampaikan setiap tahun ia memasak lima kilogram daging, namun karena ada keterbatasan alat dan dana, ia hanya menggunakan 1,5 kilogram daging saja. Itu pun sebagian merupakan daging dari bantuan yang diserahkan donatur penghuni huntara.
Baca juga: Marandang tradisi sambut Ramadhan yang tak lekang di Ranah Minang
“Biasa tiga kilogram, paling banyak lima kilogram, biasa di tungku tapi karena sekarang tinggal di huntara, buat sedikit saja, panci kecil,” ucapnya.
Tak jauh dari hunian Imis, tampak warga lain, Roza, juga sedang sibuk mengaduk-aduk rendang yang sudah setengah jadi.
Meski ada keterbatasan ekonomi akibat bencana, Roza mengaku sengaja menyisihkan bantuan tunai yang ia terima demi mempertahankan Tradisi Marandang. Kuali yang ia gunakan juga kuali biasa, bukan lagi kuali besi yang bisa membantu mengeluarkan aroma khas rendang.
Baca juga: Penyintas di huntara Agam Sumbar olah bantuan sembako jadi kue Lebaran
Roza menyebut upaya mempertahankan tradisi memasak rendang menjadi cara warga korban bencana menjaga semangat Lebaran, serta kebersamaan di tengah situasi pasca-bencana.
“Tetap marandang karena ini adalah tradisi. Uang ada diberi orang, jadi dibeli lah (daging). Kalau ada tamu ke rumah, tidak mungkin tidak ada rendang,” ucapnya.
Bencana banjir bandang, tanah longsor, banjir dan angin puting beliung melanda Agam pada akhir November 2025, mengakibatkan 165 orang meninggal dunia.
Korban terbanyak berasal dari Kecamatan Palembayan dengan 136 orang meninggal. Sebanyak 117 Kepala Keluarga (KK) menghuni huntara Kayu Pasak.
Baca juga: Perabotan serba ungu cara penyintas meriahkan Lebaran di huntara Agam
Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































