Wajah kemenangan: Saat istana terbuka dan Nusantara berbalut harmoni

2 hours ago 1
Sebuah kemenangan sejati yang dirayakan dalam harmoni, ketangguhan, dan rasa syukur yang mendalam di bawah naungan langit Nusantara

Jakarta (ANTARA) - Gema takbir yang bersahutan sejak Jumat malam mencapai puncaknya pada Sabtu (21/3) pagi. Di bawah langit Nusantara, jutaan umat Islam di seluruh wilayah Indonesia melaksanakan shalat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah dengan penuh kekhusyukan. Perayaan ini merujuk pada ketetapan Sidang Isbat yang dipimpin oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar, sehari sebelumnya.

Lebaran 2026 bukan sekadar rutinitas kalender tahunan. Ia muncul sebagai potret sebuah bangsa yang kian matang dalam mengelola keberagaman dan tantangan zaman.

Dari pusat pemerintahan di Istana Merdeka yang membuka pintu bagi rakyat, hingga kekhusyukan doa yang terpanjat di atas terpal dan tenda darurat para penyintas bencana, hari pertama Idul Fitri ini menyuguhkan narasi tentang kemanusiaan yang melampaui sekat-sekat perbedaan.

Keterbukaan di kompleks istana

Halaman Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta mulai dipadati warga sejak fajar menyingsing. Masyarakat dari berbagai lapisan mengantre dengan tertib untuk mengikuti gelar griya.

Presiden RI Prabowo Subianto menyapa mereka yang datang, sebuah langkah yang dinilai sebagai sinyal kuat mengenai gaya kepemimpinan yang inklusif dan terbuka

Momen ini bukan sekadar seremoni protokol, melainkan ruang komunikasi yang mempertemukan pemimpin dan rakyat dalam suasana kekeluargaan.

Bagi Presiden, Idul Fitri tahun ini merupakan momentum krusial untuk mempererat kembali persatuan seluruh elemen bangsa.

Ia memandang persatuan nasional sebagai instrumen strategis sekaligus modal utama Indonesia dalam menghadapi dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memastikan acara ini sepenuhnya mengedepankan aksesibilitas bagi masyarakat luas.

Yang menarik, Presiden secara khusus menginstruksikan agar para menteri dan pejabat negara tidak dibebani kewajiban protokoler untuk hadir secara formal di Istana.

Kebijakan ini diambil agar para abdi negara dapat merayakan hari raya bersama keluarga masing-masing, sementara panggung utama Istana sepenuhnya didedikasikan bagi silaturahmi antara pemimpin dan rakyatnya.

Efisiensi Operasi Ketupat 2026

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |