Mandailing Natal, Sumut (ANTARA) - Warga Desa Muara Batang Angkola, Mandailing Natal, Sumatera Utara, yang wilayah menjadi langganan banjir enggan untuk direlokasi, karena mereka masih menggantungkan mata pencaharian di sekitar desa.
"Kami warga desa sudah bersepakat untuk tidak mau direlokasi," kata Kepala Desa Muara Batang Angkola, Mandailing Natal, Satriya Wira di Mandailing Natal, Jumat.
Ia mengatakan bahwa warga sudah bersepakat untuk tidak meninggalkan kampung halamannya, meskipun menjadi salah satu daerah langganan banjir.
Menurut dia, banjir yang terjadi di desanya dikarenakan adanya pertemuan dua sungai yaitu Sungai Muara Batang Gadis, dan Sungai Batang Angkola, sehingga air sering meluap ketika terjadi hujan deras.
Wira menjelaskan bahwa pertemuan dua sungai itu menjadikan debit air tidak dapat ditampung, apalagi lebar sungai tidak sepadan dengan debit air.
"Kemungkinan kalau pertemuan sungai ini dilebarkan, maka permasalahan banjir di desa kami teratasi," ujarnya.
Wira menambahkan bahwa hampir semua penduduk di desanya terdampak banjir yang tingginya lebih dari 2 meter pada akhir bulan November 2025 dan mereka terpaksa mengungsi ke daerah lain.
Ia menyatakan, Pemkab Mandailing Natal sudah pernah mewacanakan untuk relokasi ke tempat lebih aman, tetapi masyarakat enggan, sebab perekonomian mereka berada di desa tersebut.
"Penduduk yang terdampak ada 187 KK atau 600 jiwa lebih," katanya menambahkan.
Sementara itu, seorang warga Zulfahri Lubis mengatakan, Desa Muara Batang Angkola memang menjadi daerah langganan banjir, namun biasanya tidak sampai satu mata kaki dan warga juta tidak pernah mengungsi.
"Kalau kemarin kami sampai mengungsi 10 hari. Ini memang yang terparah. Namun kami pastikan tidak mau direlokasi," katanya.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, berupaya untuk merelokasi sebanyak 464 rumah warga yang menjadi langganan banjir di beberapa titik daerah tersebut.
"Kami mengusulkan untuk relokasi terpusat sebanyak 464 rumah," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mandailing Natal, Muksin Nasution.
Menurut dia, untuk bencana alam di Kabupaten Mandailing Natal pada saat bencana Hidrometeorologi yang menerjang beberapa daerah di Sumatera Utara pada akhir November 2025 rerata yaitu banjir dengan ketinggian lebih dari 2 meter.
Ia memastikan bahwa tidak ada rumah warga yang rusak parah akibat bencana alam tersebut, namun pemerintah mengusulkan untuk merelokasi sejumlah rumah di beberapa desa yang menjadi langganan banjir.
BPBD Kabupaten Mandailing Natal mengusulkan untuk merelokasi terpusat desa yang menjadi langganan banjir, seperti Desa Muara Batang Angkola, Kecamatan Siabu, Desa Hutarimbaru, Desa Ranto Panjang, Desa Lubuk Kapundung 1, Kecamatan Muara Batanggadis. Kemudian Desa Batahan III, Kecamatan Batahan, Dusun Koto Puat, Desa Batu Sondat Kecamatan Batahan.
Secara keseluruhan, kata Muksin, terdapat 464 rumah direncanakan direlokasi terpusat sedangkan 15 rumah akan relokasi mandiri.
Baca juga: Elegi pelipur lara anak-anak penyintas bencana
Baca juga: DPR: Percepat eksekusi anggaran Rp529 miliar untuk faskes Sumatera
Baca juga: Progres pembangunan jembatan aramco di Tanah Datar sudah 55 persen
Pewarta: Khaerul Izan
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































