Warga Aceh Tamiang senang tempati huntara

1 week ago 16

Aceh Tamiang, Aceh (ANTARA) - Sebagian warga terdampak banjir di wilayah Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, bersyukur bisa menempati hunian sementara (huntara) Danantara, yang disiapkan pemerintah setelah dua bulan bertahan di tenda pengungsi.

Jubaidah (60), warga Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, mengaku dirinya kini bisa bernapas lega menempati hunian sementara usai rumahnya hanyut diterjang banjir besar.

"Senang lah ibu bisa tinggal di sini, enak dapat rumah (sementara), enggak kena angin (lagi). Kalau sana (di tenda pengungsian) kan kita di pinggir sungai. Di pinggir sungai, itu kami mengungsi di tenda," kata Jubaidah ditemui ANTARA di huntara Danantara di Desa Simpang Empat Upah, Kecamatan Karang Baru, Minggu.

Jubaidah menuturkan rumah papan miliknya lenyap tanpa sisa, menyisakan pakaian yang melekat di badan, sementara seluruh perkakas rumah tangga ikut terbawa arus.

Selama hampir dua bulan, Jubaidah bersama keluarga terpaksa bertahan di tenda pengungsian di pinggir sungai tepat di ujung jembatan di daerahnya, menghadapi dingin, gelap, hujan, serta rasa takut setiap kali air sungai kembali meninggi.

Ia mengaku kondisi tersebut semakin berat karena minimnya penerangan dan perlindungan, sehingga banyak pengungsi menangis. Kepindahan ke huntara yang difasilitasi lurah dan aparat kelurahan menjadi titik balik dengan merasa lebih aman dan tenang dibandingkan harus tinggal di tenda darurat di tepi sungai.

Meski bantuan yang diterima berupa bahan pokok dan perlengkapan sederhana, Jubaidah mengaku bersyukur karena setidaknya kini memiliki tempat berteduh yang layak untuk dirinya, suami, dan cucunya.

Ia juga bersyukur karena huntara itu memiliki beberapa dapur umum, kamar mandi, hingga toilet bersama yang layak digunakan.

Sitti Aisyah (51) penghuni Huntara Danantara yang merupakan warga Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, menjawab pertanyaan ANTARA ditemui di Aceh Tamiang, Minggu (25/1/2026). ANTARA/Harianto

Warga lainnya, Sitti Aisyah (51) yang juga merupakan warga Sukajadi, mengaku telah menempati huntara itu selama sekitar satu minggu bersama suami dan seorang anak, setelah rumah panggungnya hanyut total diterjang banjir besar.

Ia menuturkan banjir kali ini menjadi yang terparah sepanjang ingatannya, merobohkan rumah kayu berukuran besar yang sebelumnya tak pernah terdampak, menyisakan hanya tiang beton tanpa lantai maupun dinding.

"Rumah yang tadinya nggak pernah kena banjir, habis semuanya. Hanyut, hilang semua. Kan rumah panggung, tiang beton, lantai dengan yang atasnya itu udah habis, udah habis semua," ucap Sitti.

Sebelum masuk huntara, Sitti bertahan hampir dua bulan di tenda pengungsian, menghadapi keterbatasan bantuan, cuaca, serta ketidakpastian ekonomi sebagai pedagang yang kehilangan sumber penghasilan utama.

Suasana Huntara Danantara di Desa Simpang Empat Upah, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, Minggu (25/1/2026). ANTARA/Harianto

Di huntara, ia merasa lebih nyaman untuk beristirahat karena listrik dan jaringan tersedia, meski bantuan logistik telah berkurang dan lokasi jauh menyulitkan akses berdagang ke pusat kota.

Seluruh harta benda, termasuk perlengkapan pesta pernikahan anak bungsunya, hanyut terbawa arus, memaksa keluarga menunda rencana hajatan yang sebelumnya telah dipersiapkan secara bertahap.

Untuk bertahan, Sitti kembali berjualan mi sop di lingkungan huntara, melayani sesama penghuni, meski pendapatan jauh berkurang dibanding saat berdagang dan katering di lokasi lama.

Ia berharap hunian tetap segera terwujud, sembari bersyukur proses pengurusan dokumen kependudukan berjalan lancar, menjadi modal awal menata ulang kehidupan keluarga pascabencana banjir Aceh.

M. Fajar, penghuni Huntara Danantara yang merupakan warga Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, menjawab pertanyaan ANTARA ditemui di Aceh Tamiang, Minggu (25/1/2026). ANTARA/Harianto

M. Fajar, pelajar kelas satu SMA asal Sukajadi tinggal di hunian sementara bersama orang tuanya setelah rumah keluarga mereka hanyut dan hilang diterjang banjir.

Ia merupakan anak ketujuh dari delapan bersaudara, sebagian kakaknya tinggal di luar daerah, sementara lima anggota keluarga kini bertahan bersama di huntara pascabanjir yang sederhana, aman, dan penuh harapan baru.

Saat banjir melanda, kata Fajar, dirinya dan keluarga sempat mengungsi selama sekitar satu bulan.

Kini di huntara, Fajar mengaku merasa nyaman karena fasilitas dasar tersedia, mulai air bersih hingga jaringan internet yang mendukung sekolah serta aktivitas remaja sehari-hari di lingkungan hunian sementara tersebut.

"Tempatnya nyaman, ada jaringan internet juga di sini," kata Fajar.

Meski di huntara, setiap hari Fajar tetap bersekolah menggunakan angkutan atau jemputan, dengan jarak relatif sama seperti sebelum rumahnya hanyut diterjang banjir besar di kawasan Sukajadi.

Di luar jam sekolah, Fajar mengisi waktu dengan bergaul bersama teman sebaya, bermain sepak bola di lapangan sekitar, serta menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang berubah drastis bagi dirinya.

Diketahui Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara telah membangun 600 unit huntara di atas lahan bekas kebun sawit milik PTPN yang ada di Desa Simpang Empat Upah, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang.

Suasana Huntara Danantara di Desa Simpang Empat Upah, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, Minggu (25/1/2026). ANTARA/Harianto

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Hisar Sitanggang
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |