Wamendikdasmen perkuat peran guru BK jaga mental siswa di sekolah

1 hour ago 2

Kota Bandung (ANTARA) - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menegaskan pihaknya memperkuat peran guru bimbingan konseling (BK) guna menjaga perhatian terhadap kesehatan mental peserta didik.

“Karena selama ini di sekolah guru kurang cepat mendeteksi persoalan anak-anaknya. Dengan memperkuat peran konseling guru BK di sekolah, kita ingin para guru menjadi pihak pertama yang bisa mendeteksi persoalan anak,” kata Fajar di Bandung, Jumat.

Menurutnya, persoalan yang dialami anak di lingkungan keluarga kerap terbawa ke sekolah tanpa terdeteksi oleh guru, sehingga pihaknya tentu perlu memperkuat peran guru wali serta layanan bimbingan konseling.

Fajar menyebut pihaknya juga tengah merevitalisasi peran unit kesehatan sekolah (UKS) sebagai penghubung antara sekolah dan puskesmas dalam menangani persoalan kesehatan fisik maupun mental siswa.

“Ketika anak-anak kita menunjukkan gejala yang tidak wajar, guru wali harus bisa mendeteksi, lalu dibawa ke UKS untuk diajak konsultasi. Kalau tidak bisa diatasi, maka UKS merekomendasikan dirujuk ke fasilitas kesehatan,” ujarnya.

Baca juga: Wamendikdasmen pastikan anak SD akhiri hidup di NTT peserta PIP

Ia menambahkan langkah tersebut sejalan dengan rencana Kementerian Kesehatan yang akan menempatkan tenaga psikolog klinis di setiap puskesmas.

Lebih lanjut, Fajar menyampaikan bahwa kasus siswa sekolah dasar berinisial Y di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, yang mengakhiri hidup karena diduga akibat tekanan finansial harus menjadi perhatian serius pemerintah.

“Karena kami tahu anak zaman sekarang tingkat stresnya tinggi. Ada faktor ekonomi, faktor keluarga, faktor sosial, kadang juga faktor tekanan teman,” katanya.

Oleh karena itu, pihaknya telah menyiapkan kebijakan jangka panjang untuk mencegah persoalan kesehatan mental pada anak-anak melalui program tujuh kebiasaan anak Indonesia Hebat.

“Supaya anak-anak kita tumbuh menjadi anak yang sehat dan bisa jauh dari tekanan hidup, depresi, atau stres yang kita sebut sebagai masalah mental,” ujarnya.

Menurut dia, berbagai kebijakan tersebut merupakan bentuk intervensi jangka panjang pemerintah dalam menghadapi tingginya tingkat stres anak-anak akibat faktor ekonomi, keluarga, sosial, maupun tekanan pergaulan.

Baca juga: Wakil Menteri Kesehatan soroti masalah kesehatan mental pada anak

Baca juga: Wamensos dorong pemda perbaiki data warga miskin usai kasus di NTT

Pewarta: Rubby Jovan Primananda
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |