​Riset: Ruh industrialisasi dan kompas pembangunan

1 hour ago 1
Jika Indonesia hanya mampu menjual apa yang digali dari tanah, kita akan tertinggal oleh negara yang mampu mengolah data dan atom menjadi inovasi

Jakarta (ANTARA) - Gagasan bernas dan teknokratis disodorkan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) Satryo Soemantri Brodjonegoro dalam berbagai forum publik belakangan ini.

Sebuah konsep fundamental yang memposisikan riset bukan sekadar lampiran administratif, melainkan ruh dan mesin penggerak dalam setiap proyek infrastruktur fisik maupun pembangunan sumber daya manusia.

Premisnya rasional: Indonesia tidak akan pernah bisa keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap) jika hanya mengandalkan otot tanpa sentuhan otak. Riset bukan sekadar tugas akademik yang berakhir menjadi dokumen usang di rak perpustakaan, melainkan jantung industrialisasi yang memberikan nilai tambah pada setiap gerak langkah pembangunan.

Belajar dari The Miracle on the Han River

Bagaimana riset mampu mengubah nasib sebuah bangsa? Tengoklah Korea Selatan. Pada era 1960-an, PDB per kapita mereka berada di bawah Indonesia dan beberapa negara di Afrika. Namun, mereka melakukan langkah yang dianggap "gila" saat itu: Investasi besar-besaran pada riset dan pengembangan (R&D).

​Korea Selatan mengalokasikan hampir 5 persen dari PDB-nya untuk R&D, salah satu yang tertinggi di dunia. Mereka berhenti mengekspor komoditas mentah dan beralih ke teknologi tinggi, mulai dari chip semikonduktor, otomotif, hingga reaktor nuklir.

Riset bagi mereka adalah nyawa dan harga diri bangsa.

​Pakar ekonomi dari Harvard University, Ricardo Hausmann, dalam teorinya tentang Economic Complexity, sering menekankan bahwa kemakmuran sebuah negara tidak ditentukan oleh jumlah sumber daya alamnya, tetapi oleh jumlah pengetahuan kolektif yang dimiliki.

Hausmann berpendapat bahwa negara yang maju adalah negara yang mampu merangkai pengetahuan (riset) menjadi produk-produk yang kompleks.

Jika Indonesia hanya mampu menjual apa yang digali dari tanah, kita akan tertinggal oleh negara yang mampu mengolah data dan atom menjadi inovasi.

​Maka, relevansi pernyataan Satryo sangat kuat: Perguruan tinggi harus menjadi agen pembangunan ekonomi.

Harus ada hilirisasi, sebuah "perkawinan paksa" antara laboratorium kampus dan lantai pabrik industri.

Paradigma baru

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |