TNI bersihkan sekolah di Pidie-Aceh Tamiang dari timbunan lumpur

1 month ago 15

Jakarta (ANTARA) - Personel TNI AD melakukan pembersihan sekolah-sekolah terdampak bencana di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh Utara, hingga Aceh Tamiang menjelang semester baru yang akan dimulai pada Senin (5/1).

Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI dalam keterangan di Jakarta, Minggu, menyebutkan para personel TNI membersihkan MIN 29 Aceh Utara, MIN 21 Aceh Utara, SMAN 1 Baktiya, SMPN 1 Lapang, SDN 19 Jambo Aye, TK Pelangi, dan SDN 7 Kuala Simpang sejak Sabtu (3/1).

Selain itu, TK Quratul Aqyun, PAUD Nurul Ikhlas, SDN Grong-Grong, SDN Ketibung, Pondok Dayah Asasul Huda, dan SDN 8 Meureudu. Lalu, MIN 2 Meurah Dua, MTs Meurah Dua, SMPN 5 Kejuruan Muda, SDN Simpang Kiri, TK Al Fatih, dan MIS Al Amin.

Para personel yang sebagian besar tergabung dalam Satuan Tugas Penanggulangan Bencana membersihkan baik bagian dalam maupun luar gedung sekolah.

Baca juga: Polri gencarkan pengobatan gratis-bersihkan sekolah di Palembayan Agam

Lumpur-lumpur yang masih tersisa dan sudah mengeras disiram dengan air. Tumpukan material sampah yang terbawa banjir dan longsor ditangani.

Di SDN 7 Kuala Simpang, proses pembersihan sudah signifikan. Lantai kelas sudah bersih dari lumpur dan rak-rak juga mulai ditata. Di MIN 2 Meurah Dua, lumpur masih terlihat menumpuk di halaman sekolah, bangku-bangku juga masih ada di luar kelas. Alat berat berupa ekskavator bahkan diturunkan ke MIN 2 Meurah Dua.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengatakan kegiatan belajar mengajar di wilayah terdampak bencana tetap akan dimulai pada Senin (5/1). Pemerintah menyiapkan tenda darurat sebagai ruang kelas sementara untuk sekolah yang rusak berat.

Berdasarkan data pemerintah, terdapat 3.700 sekolah terdampak bencana di Sumatra, dengan 3.100 di antaranya mengalami kerusakan berat. Fokus utama pemerintah saat ini melakukan percepatan pembersihan sekolah yang masih tertimbun material sisa bencana.

Pemerintah juga menyiapkan tiga skenario kegiatan belajar mengajar bagi siswa dan guru di sekolah terdampak bencana. Sebanyak tiga skenario itu dibagi berdasarkan waktu, yaitu masa tanggap darurat (0-3 bulan), masa transisi (3-12 bulan), dan masa pemulihan (1-3 tahun).

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan metode pembelajaran akan adaptif terhadap kondisi di lapangan.

“Metode pembelajaran bersifat fleksibel dan adaptif, termasuk pengembangan bahan belajar darurat,” ujarnya.

Baca juga: Guru terdampak bencana apresiasi tunjangan khusus dari pemerintah

Baca juga: Progres jembatan di Malalak Sumbar dikebut guna pastikan akses

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |