TKA mandiri kolaboratif di PKBM wujudkan model ujian yang adaptif

5 hours ago 4

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengatakan penyelenggaraan Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang mandiri dan kolaboratif di berbagai Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) merupakan wujud model ujian yang adaptif sesuai dengan kebutuhan peserta.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin mengatakan perbedaan model pelaksanaan antara PKBM mandiri dan kolaboratif menunjukkan bahwa kebijakan TKA tidak hanya menekankan standarisasi, tetapi juga memberikan ruang adaptasi bagi satuan pendidikan nonformal.

“Pendekatan ini dinilai efektif dalam menjawab tantangan khas PKBM, seperti heterogenitas usia, kesibukan pekerjaan, serta keterbatasan sarana dan prasarana,” kata Dirjen Tatang di Jakarta pada Rabu.

Tatang juga menegaskan pelaksanaan TKA yang semakin tertib dan terstruktur menandai pergeseran penting dalam sistem evaluasi pendidikan nonformal.

Jika sebelumnya fleksibilitas menjadi ciri utama, kini keseimbangan antara fleksibilitas dan standar menjadi kunci.

“Hal ini memperkuat posisi PKBM sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional,” imbuhnya.

Dengan pelaksanaan yang semakin matang, Tatang mengatakan TKA tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi, namun juga sebagai instrumen strategis untuk meningkatkan kredibilitas lulusan pendidikan nonformal.

Adapun potret TKA Mandiri terlihat di PKBM Bina Cipta Ujungberung, Bandung, Jawa Barat.

Di sana, ia menjelaskan pelaksanaan TKA untuk Paket B (setara SMP) yang berlangsung pada 11–12 April 2026 berjalan lancar dengan tingkat kehadiran mencapai 100 persen.

Ia menyebutkan sebanyak 26 warga belajar mengikuti ujian dalam dua sesi per hari, meliputi numerasi, literasi, serta survei lingkungan belajar.

Baca juga: Mendikdasmen: Persiapan TKA berbasis komputer capai tahap akhir

Pada kesempatan berbeda, Kepala PKBM Bina Cipta Ujungberung Santi Susilawati mengungkapkan keberhasilan tersebut tidak terlepas dari strategi penguatan komitmen peserta sejak awal.

“Dari jauh hari kami sudah membangun komitmen dengan warga belajar agar hadir di setiap sesi. Ujian dilaksanakan Sabtu dan Minggu karena karakteristik mereka berbeda, banyak yang bekerja dan memiliki keterbatasan waktu,” ujarnya.

Menurut Santi, penyesuaian jadwal pada akhir pekan menjadi langkah strategis yang tetap selaras dengan ketentuan nasional, namun responsif terhadap kebutuhan warga belajar.

Baca juga: Ombudsman Lampung: Murid tak boleh diberatkan dalam TKA

Pewarta: Hana Dewi Kinarina Kaban
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |