Tempah Dedoro dan cara kota bernapas

1 week ago 11

Mataram (ANTARA) - Kota-kota tumbuh dengan irama yang nyaris sama, yakni padat, cepat, dan menghasilkan sisa. Di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), sisa itu bernama sampah.

Setiap hari, ratusan ton limbah rumah tangga bergerak dari dapur warga menuju tempat penampungan sementara (TPS), lalu berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

Di balik rutinitas itu, ada beban lingkungan yang terus menumpuk, ruang kota yang menyempit, dan biaya publik yang kian membesar. Dalam konteks itulah inovasi bernama “tempah dedoro” muncul sebagai langkah sederhana dan lokal, nyaris sunyi gaungnya, tetapi membawa pesan besar tentang bagaimana sebuah kota belajar mengurus dirinya sendiri.

Tempah dedoro bukan teknologi canggih, dengan mesin mahal atau perangkat digital mutakhir. Ia lahir dari logika paling dasar pengelolaan sampah, bahwa sampah organik seharusnya selesai di sumbernya.

Inovasi ini diuji coba di Lingkungan Marong Jamak Karang Tatah, Mataram, lalu diperluas ke puluhan kelurahan dan sekolah. Angkanya berbicara, volume sampah yang semula mencapai sekitar 180–200 kilogram per hari di satu lingkungan, turun hingga separuhnya, setelah tempah dedoro diterapkan.

Dari kota yang setiap hari menghasilkan sekitar 220–250 ton sampah, sekitar 60 persen di antaranya berupa sampah organik yang sejatinya dapat diurai tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke TPA.

Hanya saja, persoalan ini tidak berhenti pada angka keberhasilan. Justru di situlah pertanyaan penting dimulai, apakah tempah dedoro sekadar solusi teknis, ataukah ia menandai perubahan cara berpikir kota dalam mengelola pelayanan publik dan tanggung jawab lingkungan?


Lubang beton

Secara fisik, tempah dedoro hanyalah buis beton dengan penutup, dilubangi di bagian atas, lalu ditanam di halaman rumah, gang, sekolah, atau kantor. Sampah organik dimasukkan, disemprot cairan pengurai atau air bekas cucian beras, lalu dibiarkan bekerja mengikuti hukum alam. Enam hingga 12 bulan kemudian, ia berubah menjadi kompos.

Kesederhanaan inilah yang menjadi kekuatannya. Biaya pembuatannya relatif murah, berkisar ratusan ribu rupiah per unit, dan satu unit dapat melayani tiga hingga empat kepala keluarga.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |