Mataram (ANTARA) - Pagi itu, tak ada suara takbir yang menggema bebas di udara. Hanya gema langkah sepatu petugas yang terdengar di lorong sempit itu, sesekali diselingi percakapan lirih antarwarga binaan.
Di balik dinding tinggi dan pintu besi yang terkunci, Idul Fitri tetap datang. Ia hadir dengan cara yang berbeda, lebih sunyi, namun tidak kehilangan makna.
Di Nusa Tenggara Barat (NTB), suasana Lebaran di lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan menghadirkan wajah lain dari hari kemenangan. Di satu sisi, ada keterbatasan yang tak bisa dielakkan. Di sisi lain, tersimpan upaya menghadirkan kembali nilai kemanusiaan di tengah sistem hukum yang tegas.
Momentum ini menjadi penting untuk ditelaah, bukan sekadar sebagai peristiwa tahunan, melainkan sebagai cermin bagaimana negara memperlakukan warganya, bahkan ketika mereka sedang menjalani hukuman.
Sunyi menghidupkan
Idul Fitri identik dengan pulang, keluarga, dan kebebasan, namun bagi ribuan warga binaan di NTB, Lebaran justru menjadi pengingat paling nyata tentang jarak, yakni jarak dari rumah, dari orang tua, dari anak-anak yang mungkin hanya bisa dilihat lewat layar.
Data menunjukkan, sebanyak 3.019 narapidana di NTB menerima remisi Idul Fitri tahun ini. Angka ini bukan sekadar statistik administratif. Ia adalah simbol bahwa di balik jeruji, proses perubahan tetap berlangsung.
Remisi diberikan bukan sebagai hadiah kosong, melainkan bentuk pengakuan atas perilaku baik selama menjalani pembinaan.
Namun, realitasnya tidak sesederhana itu. Mayoritas penerima remisi berasal dari kasus narkotika, yang mencerminkan persoalan struktural yang lebih dalam di masyarakat.
Artinya, lembaga pemasyarakatan bukan hanya tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang pertemuan berbagai problem sosial yang belum tuntas di luar.
Di Lombok Tengah, pendekatan yang lebih humanis mulai terlihat. Tahanan mendapatkan makanan tambahan, pembinaan, hingga sentuhan emosional berupa halal bihalal bersama aparat dan pemerintah daerah. Momentum ini dimanfaatkan untuk menanamkan kembali harapan.
Di titik ini, Lebaran di balik jeruji bukan lagi soal keterbatasan, tetapi tentang bagaimana ruang sempit itu tetap berdenyut oleh nilai-nilai kemanusiaan.
Lalu, pertanyaannya, apakah pendekatan seperti ini cukup untuk mengubah masa depan mereka?
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































