Aceh Utara, Aceh (ANTARA) - SMAN 1 Baktiya di Kabupaten Aceh Utara mengoptimalkan pembelajaran di kelas darurat pascabanjir setelah seluruh sarana prasarana rusak parah, terendam air hingga tiga meter, dan ruang belajar dipenuhi endapan lumpur tebal.
Kepala SMA Negeri 1 Baktiya, Marzuki Hasan ditemui ANTARA di Aceh Utara, Rabu mengatakan proses belajar mengajar di sekolah itu kembali dimulai sejak 5 Januari 2026 sesuai instruksi Dinas Pendidikan Aceh.
"Sekarang kita belajar mengajar di kelas sementara atau kelas darurat ada tiga (jenjang kelas yang digabung)," kata Marzuki.
Dalam keterbatasan tersebut, sekolah memprioritaskan trauma healing pada pekan awal agar siswa dapat pulih secara psikologis, kembali berinteraksi, serta membangun semangat belajar setelah mengalami bencana berat bersama guru dan orangtua.
Kepala SMA Negeri 1 Baktiya, Marzuki Hasan menjawab pertanyaan ANTARA ditemui di sela pembersihan sisa lumpur di sekolah itu di Kabupaten Aceh Utara, Rabu (28/1/2026). ANTARA/HariantoSaat ini, kata dia, pembelajaran dilakukan di tiga kelas darurat dengan sistem klasikal, memisahkan jenjang kelas dan pengaturan ruang antara laki-laki dan perempuan, sambil menyesuaikan kondisi cuaca serta kenyamanan siswa selama kegiatan berlangsung belajar.
Dia menyebut banjir merendam kawasan sekolah hampir menyentuh atap, menghancurkan fasilitas belajar, peralatan, dan dokumen penting sehingga aktivitas pendidikan lumpuh total dalam waktu lama.
Dikatakan, SMAN 1 Baktiya memiliki 318 siswa yang mayoritas terdampak banjir. Meski begitu, kehadiran belajar dilakukan bergiliran tanpa paksaan, menyesuaikan kondisi keluarga dan pemulihan pascabencana.
"Kita nggak paksakan anak-anak datang, tapi kita sarankan supaya datang. Artinya begini, sebagaimana harapan Kadis Pendidikan Aceh, anak-anak (agar masuk sekolah agar) bisa bergaul, anak-anak bisa berkomunikasi, anak-anak bisa berinteraksi sehingga trauma-trauma yang mereka hadapi di saat banjir itu akan hilang," ucapnya.
Hingga kini, katanya, seluruh ruang belajar permanen belum dapat digunakan karena kerusakan berat dan lumpur tebal, sehingga proses pendidikan masih sepenuhnya bergantung pada fasilitas darurat yang tersedia.
Adapun upaya pembersihan sekolah itu dilakukan secara bertahap melibatkan guru, prajurit TNI AD dari Batalyon Zeni Tempur 6/Satya Digdaya (Yonzipur 6/SD), Sat Brimob, BUMN PT PP, serta relawan warga transmigrasi sekitar sekolah.
Ia berharap dukungan pemerintah dan kolaborasi masyarakat terus berlanjut agar pembangunan kembali sekolah dapat segera terealisasi, sehingga siswa kembali belajar aman, nyaman, dan bermartabat di masa depan yang dekat.
Afdal Maulana, salah satu siswa yang juga Ketua Kelas XII-1 SMAN 1 Baktiya, Aceh Utara menjawab pertanyaan ANTARA ditemui di sekolah itu di Kabupaten Aceh Utara, Rabu (28/1/2026). ANTARA/HariantoAfdal Maulana, salah satu siswa yang juga Ketua Kelas XII-1 SMAN 1 Baktiya Aceh Utara, mengaku tetap senang mengikuti pembelajaran meski dalam kondisi darurat pascabanjir, karena demi menyiapkan diri menghadapi ujian akhir sekolah menengah atas di tahun ini.
Ia mengaku khawatir tidak lulus karena sempat terhenti belajar saat banjir merendam rumahnya, memaksa keluarga mengungsi dua hari dua malam di atap masjid kampung lain dengan kondisi cuaca ekstrem.
Selama mengungsi, Afdal dan keluarga bertahan dengan keterbatasan kebutuhan logistik, bahkan memakan kelapa yang ada di sekitar tempat mengungsi, setelah salah satu kerabat berenang ke tumbuhan tersebut. Kemudian komunikasi juga terputus akibat listrik padam dan jaringan hilang.
Beruntung setelah empat hari, Afdal dan keluarga kembali ke rumah dan membersihkan berlumpur akibat banjir. Namun, upaya pembersihan belum dapat dilakukan sepenuhnya sehingga kembali mengungsi kala itu.
Afdal mengaku senang kembali bersekolah karena dapat bertemu teman, namun kesulitan memahami pelajaran karena tanpa buku, hanya mendengar penjelasan guru di kelas darurat dengan fasilitas sangat terbatas.
"Karena nggak ada tempat tulis. Cuma mendengar, melihat karena buku nggak ada satu pun, buku nggak ada lagi, di rumah pun nggak ada lagi," kata Afdal.
Kelas darurat yang dibangun di tengah lapangan SMAN 1 Baktiya di Aceh Utara untuk belajar mengajar pasca bencana banjir di Kabupaten Aceh Utara, Rabu (28/1/2026). ANTARA/HariantoBaca juga: Enam jembatan diresmikan, akses Agam kembali lancar pascabencana
Baca juga: Baznas bangun meunasah darurat untuk ibadah warga di Pidie Jaya
Baca juga: Masyarakat aktif, jumlah pengungsi di Gayo Lues perlahan berkurang
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































