Jakarta (ANTARA) - Kaum gen z dan milenial menyadari benar bahwa untuk sehat itu butuh ongkos. Bukan semata untuk biaya berobat, vitamin, atau pemeriksaan kesehatan. Namun gym, lari, padel, tenis, yoga, pilates, hingga bersepeda ternyata tidak sepenuhnya gratis.
Meski menguras isi dompet, perubahan gaya hidup ke pola yang lebih sehat sebenarnya merupakan kabar baik karena menunjukkan tumbuhnya kesadaran untuk berinvestasi pada kesehatan.
Namun, dari sudut pandang ekonomi rumah tangga, ada persoalan praktis yang muncul kemudian, termasuk untuk memikirkan berapa banyak pendapatan yang sebenarnya layak dialokasikan untuk hidup sehat tanpa mengganggu tabungan, dana darurat, investasi, dan kebutuhan pokok.
Semua tentunya menyadari juga pentingnya keseimbangan antara kesehatan fisik dan kesehatan finansial yang pada akhirnya bertemu pada sumber daya yang sama, yakni pendapatan rumah tangga yang jumlahnya terbatas.
Survei Amar Bank terhadap 300 responden Gen Z dan milenial belum lama ini menggambarkan fenomena di mana olahraga dan wellness telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup, komunitas, dan pengalaman.
Pada Gen Z, gym, olahraga raket, serta yoga, pilates, dan poundfit termasuk yang banyak digemari. Sementara milenial banyak memilih gym, lari, dan bersepeda.
Menariknya, motif utama mereka bukan sekadar mengikuti tren. Sebanyak 53,8 persen responden menjadikan olahraga sebagai cara melepaskan stres, 22,5 persen untuk menjaga fisik dan penampilan, dan 17,8 persen karena hobi serta kesenangan. Hanya 1,3 persen yang mengaku melakukannya karena gengsi alias atau fear of missing out (FOMO).
Artinya, pengeluaran wellness semakin dapat dipandang sebagai bagian dari ekonomi kesejahteraan rumah tangga. Manfaatnya nyata, tetapi bukan berarti pengeluarannya dapat dibiarkan tanpa batas.
Survei kemudian memberikan sinyal yang patut diperhatikan ketika sebanyak 46,2 persen responden masih menjaga anggaran olahraga di bawah 10 persen pendapatan. Namun, 22,1 persen mengaku pengeluaran olahraga mulai membuat kondisi keuangan semakin ketat.
Bahkan, 10,6 persen Gen Z mengalokasikan lebih dari 20 persen pemasukan untuk olahraga, sekitar 2,5 kali proporsi milenial yang mencapai 4,1 persen. Sebagian sampai mengorbankan tabungan.
Dalam ekonomi rumah tangga, persoalannya bukan apakah Rp500.000 atau Rp2 juta untuk olahraga terlalu mahal. Yang lebih menentukan adalah proporsinya terhadap pendapatan dan kondisi keuangan seseorang.
Pengeluaran Rp1 juta mungkin relatif ringan bagi seseorang yang memiliki penghasilan Rp15 juta dan dana darurat yang cukup. Namun, angka yang sama menjadi persoalan jika pendapatan hanya Rp5 juta, masih memiliki cicilan, belum mempunyai dana darurat, dan tidak rutin menabung.
Oleh sebab itu, konsep yang lebih berguna adalah opportunity cost atau biaya kesempatan. Setiap rupiah yang dipakai untuk satu kebutuhan berarti tidak dapat digunakan untuk kebutuhan lain pada saat yang sama.
Ketika Rp1 juta digunakan membeli sepatu baru, misalnya, pertanyaannya bukan sekadar apakah sepatu itu mampu dibeli, melainkan kebutuhan apa yang harus dikorbankan untuk membelinya.
Marketing Head Amar Bank Rosalinda Hoesin melihat pentingnya keseimbangan tersebut. Menurut dia, meningkatnya semangat generasi muda menjalani gaya hidup sehat semestinya berjalan bersama dengan kesadaran finansial sehingga keputusan mengenai wellness tidak mengganggu kesehatan keuangan.
Perilaku adaptif
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































