Beijing (ANTARA) - Bank Indonesia melakukan peluncuran awal (soft launching) layanan Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS lintas negara antara Indonesia dan China pada Kamis.
Melalui kerja sama tersebut, masyarakat Indonesia yang berada di China dapat melakukan transaksi pembayaran menggunakan QRIS, begitu pula sebaliknya.
"Pencapaian penting ini mencerminkan kolaborasi yang kuat dan terus berkembang antara Bank Indonesia dan bank sentral China, serta kemitraan erat dengan para pemangku kepentingan industri dari kedua negara; dan yang lebih penting lagi, hal ini merupakan langkah maju yang nyata dalam memperkuat konektivitas keuangan antara Indonesia dan China," kata Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta saat menyampaikan sambutan melalui video pada peluncuran tersebut di Beijing, Kamis.
Menurut Filianingsih, selama masa uji coba (sandboxing) sejak 17 Agustus 2025 lalu bersama bank sentral China, yaitu People’s Bank of China (PBoC), para pengguna layanan QRIS mencapai 1,64 juta transaksi inbound dengan nominal Rp556 miliar.
Baca juga: BI perluas QRIS antarnegara ke China, transaksi mulai bisa hari ini
Transaksi inbound adalah yang dilakukan masyarakat China di Indonesia, sementara transaksi outbond dilakukan masyarakat Indonesia di China. Saat ini, transaksi QRIS masih terbatas dilakukan untuk sistem pembayaran digital Alipay, padahal di China ada juga sistem WeChat Pay maupun Unionpay.
"Transaksi inbound itu menunjukkan adanya permintaan yang kuat, meskipun partisipasi masih terbatas pada sejumlah pengguna awal terpilih. Di sisi transaksi keluar outbond, jumlah transaksi telah mencapai sekitar 8.000 transaksi, dengan nilai sekitar Rp6,4 miliar. Kami yakin bahwa angka-angka ini akan terus tumbuh menyusul pelaksanaan soft launching pada hari ini," jelas Filianingsih.
Koneksi pembayaran QRIS lintas batas itu, lanjutnya, memungkinkan terjadinya transaksi yang cepat, mulus, terjangkau, aman, dan andal.
"Dengan memungkinkan pengguna untuk bertransaksi menggunakan aplikasi seluler domestik mereka, kami meningkatkan kenyamanan sekaligus tetap menjaga perlindungan yang kuat bagi para pengguna. Di luar dimensi teknis, inisiatif ini juga diharapkan dapat mendukung arus pariwisata, memfasilitasi partisipasi UMKM dalam perdagangan lintas batas, serta semakin memperkuat konektivitas antar-masyarakat Indonesia dan China," kata Filianingsih.
Baca juga: BI: Transaksi pembayaran digital tumbuh 33,76 persen selama triwulan I
Dia pun menambahkan kerja sama tersebut, tak kalah penting, juga selaras dengan komitmen BI untuk mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas batas.
"Melalui Kerangka Kerja Transaksi Mata Uang Lokal (Local Currency Transaction Framework), kami juga ingin meningkatkan efisiensi, mengurangi ketergantungan pada mata uang pihak ketiga, serta memperkuat ketahanan sistem keuangan kami," katanya.
Hadir secara langsung dalam acara soft launching tersebut ialah Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran (DKSP) Bank Indonesia Dudi Dermawan, Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun, Kepala Perwakilan BI di Beijing Yulian Wihantoro, dan Wakil Direktur UnionPay International Xie Qunsong.
Baca juga: BI sebut turis Jepang segera bisa belanja di Indonesia pakai QR code
Sementara itu, peluncuran resmi (grand launching) layanan QRIS lintas batas Indonesia-China sendiri akan berlangsung pada Juni 2026 di Shanghai, bersamaan dengan Pertemuan Tingkat Tinggi Program Kerja Bersama Indonesia-China.
Setelah resmi diluncurkan, dari sisi Indonesia, terdapat 24 penyelenggara yang terlibat, terdiri atas 16 perbankan dan delapan lembaga selain bank. Dari sisi China, tercatat ada 19 penyelenggara siap mendukung konektivitas pembayaran tersebut.
Sebelum China, BI juga telah meresmikan penggunaan layanan QRIS di Korea Selatan pada 1 April lalu. Sebelumnya, layanan QRIS juga bisa digunakan di Thailand sejak Agustus 2022, Malaysia sejak Mei 2023, Singapura sejak November 2023, dan Jepang sejak Agustus 2025.
Baca juga: BI dan Pemprov DKI perkuat ekosistem digital di 20 pasar
Pewarta: Desca Lidya Natalia
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































