Samalas dalam ingatan Dunia

1 week ago 13
Jejak Samalas mengingatkan bahwa Indonesia bukan sekadar penonton dalam sejarah dunia, tetapi pernah menjadi episentrum peristiwa global.

Mataram (ANTARA) - Letusan besar sering kali dicatat sebagai bencana. Namun bagi Nusa Tenggara Barat (NTB), letusan Gunung Samalas pada abad ke 13 justru menjadi penanda bahwa wilayah ini pernah berada di pusat pusaran sejarah dunia.

Abu dan sulfur yang terlempar dari Samalas pada 1257 masehi tidak hanya menimbun kampung di kaki gunung, tetapi juga melintasi benua, memengaruhi iklim global, memicu gagal panen, kelaparan, dan perubahan sosial di Eropa serta Asia.

Jejak itu kini perlahan kembali muncul dari lapisan lahar dingin, dari cerita tutur masyarakat, dari artefak yang tersimpan di rumah warga, dan dari kesadaran baru pemerintah daerah bahwa NTB menyimpan narasi peradaban dunia yang belum sepenuhnya dituturkan.

Gagasan pembangunan 50 museum baru yang dilontarkan Pemerintah Provinsi NTB tidak bisa dilepaskan dari konteks tersebut. Ia bukan sekadar rencana memperbanyak gedung, tetapi sebuah upaya menata ulang cara memandang sejarah, kebudayaan, dan identitas daerah.

Pertanyaannya, sejauh mana letusan Samalas dan warisan sejarahnya dapat menjadi fondasi kuat bagi pembangunan museum, sekaligus menjadi instrumen pelayanan publik yang mendidik, memberdayakan, dan mencerahkan.


Cerita dunia

Gunung Samalas bukan hanya bagian dari lanskap Gunung Rinjani. Ia adalah simpul penting dalam sejarah iklim dunia. Penelitian internasional yang kemudian dirujuk berbagai media ilmiah menyebutkan letusan Samalas sebagai salah satu erupsi terbesar dalam dua milenium terakhir.

Dampaknya tercatat dalam anomali cuaca ekstrem di Eropa pada 1258 masehi, yang dikenal sebagai tahun tanpa musim panas. Di Lombok sendiri, letusan itu memusnahkan Kerajaan Pamatan di kawasan Tanak Beaq, Lombok Tengah, dan memaksa eksodus besar-besaran penduduk ke berbagai penjuru pulau.

Tercatat bahwa setiap aktivitas penggalian tanah di Tanak Beaq kerap memunculkan artefak peradaban lampau. Peralatan memasak, gerabah, hingga sisa-sisa hunian menjadi bukti konkret bahwa kawasan tersebut pernah menjadi pusat kehidupan yang maju pada masanya.

Sayangnya, sebagian besar artefak itu masih tersimpan secara mandiri oleh warga, tanpa sistem pendataan dan perlindungan yang memadai.

Di titik inilah sejarah global bertemu dengan persoalan lokal. Jejak Samalas yang berdampak dunia justru terancam hilang di tingkat tapak. Tanpa kebijakan penyelamatan yang cepat dan terukur, artefak bisa berpindah tangan, rusak, atau lenyap tanpa jejak.

Padahal, nilai sejarahnya bukan hanya milik NTB, melainkan bagian dari memori kolektif peradaban manusia.

Baca juga: Warga antusias pelajari artefak gunung purba saat Rinjani Color Run

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |