Saat sampah menagih janji pembangunan

2 weeks ago 13
Kebon Kongok mengajarkan satu pelajaran penting. Pengelolaan sampah tidak bisa parsial. Ia menuntut pendekatan dari hulu ke hilir. Dari pola konsumsi warga, sistem pengangkutan, teknologi pengolahan, hingga tata kelola kelembagaan.

Mataram (ANTARA) - Gunungan sampah sering kali menjadi wajah paling jujur dari sebuah kota. Ia menyimpan sisa-sisa konsumsi, pola hidup, juga pilihan kebijakan yang diambil selama bertahun-tahun.

Di Nusa Tenggara Barat (NTB), wajah itu bernama Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Kebon Kongok. Setiap hari, ratusan ton sampah dari Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat berakhir di hamparan lahan di Desa Suka Makmur, Gerung.

Ketika ritasi dibatasi dan daya tampung menipis, aroma krisis langsung terasa di jalan-jalan kota. Tempat penampungan sementara meluap, pengangkutan tersendat, dan keresahan warga tumbuh.

Keputusan memperluas TPA Kebon Kongok menjadi titik temu dari kebuntuan itu. Langkah ini dipilih sebagai solusi jangka pendek agar roda pelayanan publik tidak macet total.

Namun, perluasan landfill bukan sekadar soal menambah lahan. Ia adalah cermin bagaimana pemerintah daerah membaca waktu, memilih strategi, dan menentukan apakah krisis sampah akan kembali terulang atau benar-benar dikelola menuju sistem yang lebih beradab dan berkelanjutan.

Dalam konteks inilah Kebon Kongok menjadi lebih dari sekadar tempat pembuangan akhir. Ia berubah menjadi panggung ujian kebijakan lingkungan, kolaborasi antardaerah, dan keseriusan mengelola sampah sebagai persoalan publik yang kompleks.


Keterbatasan

Produksi sampah di Kota Mataram dan Lombok Barat telah lama melampaui kapasitas ideal pengelolaan. Angkanya mencapai ratusan ton per hari, dengan dominasi sampah rumah tangga.

Ketika aliran sampah ke Kebon Kongok dibatasi, dampaknya langsung terasa di hulu. Tempat penampungan sementara penuh dalam hitungan hari. Sampah menumpuk di sudut kota, memicu risiko kesehatan, pencemaran, dan penurunan kualitas hidup warga.

Perluasan landfill di Kebon Kongok hadir sebagai rem darurat. Tambahan lahan beberapa are dinilai mampu memberi ruang bernapas selama satu hingga dua bulan ke depan, bahkan lebih jika dikelola optimal.

Baca juga: Denyut biomassa yang memberdayakan warga

Baca juga: NTB terapkan 'sanitary landfill' dalam pengelolaan TPA Kebon Kongkok

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |