Saat kapal dunia singgah di Nusa Tenggara Barat

1 month ago 25
... kapal pesiar adalah cermin. Ia memantulkan kesiapan sebuah daerah dalam menyambut dunia. Sepanjang 2025, NTB telah menunjukkan bahwa ia layak untuk disinggahi.

Mataram (ANTARA) - Pagi di Pelabuhan Gili Mas, Lembar, tak lagi hanya diisi bunyi derek dan klakson truk logistik. Sepanjang 2025, dermaga ini berulang kali berubah wajah menjadi panggung perjumpaan global.

Kapal-kapal pesiar berukuran raksasa merapat perlahan, menurunkan ribuan wisatawan mancanegara yang membawa kamera, rasa ingin tahu, dan tentu saja potensi perputaran ekonomi.

Dari Lombok hingga Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) kian sering muncul di peta jalur pelayaran wisata dunia.

Fenomena ini bukan sekadar kabar baik bagi pariwisata, tetapi juga membuka ruang yang lebih dalam, yakni seberapa jauh daerah ini benar-benar siap memetik manfaatnya secara berkelanjutan.

Kunjungan kapal pesiar di NTB sepanjang 2025 menunjukkan tren yang konsisten meningkat. Data Pelabuhan Gili Mas mencatat 24 kapal pesiar bersandar dengan membawa sekitar 85 ribu wisatawan, naik signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Di saat yang sama, Pelabuhan Badas di Sumbawa mulai mencuri perhatian sebagai alternatif destinasi kapal pesiar bertipe luxury cruise yang mengincar wisata budaya dan kearifan lokal.

Angka-angka ini penting, tetapi lebih penting lagi adalah cerita di baliknya, yakni bagaimana kehadiran kapal pesiar memengaruhi ekonomi lokal, tata kelola pelabuhan, hingga arah kebijakan pariwisata daerah.

Baca juga: Menhub minta pengelolaan empat dermaga di Pelabuhan Badas disatukan


Ekonomi bergerak

Setiap kali kapal pesiar bersandar, denyut ekonomi lokal ikut bergetar. Pelaku UMKM di sekitar pelabuhan merasakan lonjakan penjualan, pemandu wisata kebanjiran tamu, dan armada transportasi lokal nyaris tanpa jeda mengantar wisatawan ke Senggigi, Gili Trawangan, Mandalika, atau desa-desa wisata.

Model wisata kapal pesiar memang unik. Wisatawan datang dalam jumlah besar, tetapi waktu tinggalnya singkat. Dalam rentang 8 hingga 13 jam, mereka berbelanja, berwisata, lalu kembali ke kapal.

Dari sisi perputaran uang, dampaknya nyata. Produk kerajinan, kain, cendera mata, hingga jasa transportasi laku keras dalam hitungan jam. Kehadiran ribuan wisatawan sekaligus menciptakan efek kejut ekonomi yang jarang didapat dari pola kunjungan wisata reguler.

Baca juga: Mewujudkan ekonomi berkeadilan tanpa tambang

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |