Jakarta (ANTARA) - Menteri Perdagangan RI Budi Santoso menyatakan optimismenya terhadap hubungan Indonesia dengan Maroko, setelah kedua negara mencapai kemitraan strategis.
"Sejak menjalin kemitraan strategis pada 2023, kerja sama kita telah memasuki babak baru yang menjanjikan. Saya merasa optimistis dengan momentum positif dalam hubungan ekonomi kita," kata Budi dalam acara perayaan 27 tahun penobatan Raja Mohammed VI dari Maroko, di Jakarta, Kamis.
Mendag menyatakan bahwa pada 2025, nilai perdagangan kedua negara mencapai 255 juta dolar AS (sekitar Rp4,60 triliun), tumbuh 33 persen dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, dan terus tumbuh sebesar 42 persen dari tahun ke tahun dalam lima bulan pertama 2026.
Pada 2025, Indonesia dan Maroko juga pernah terlibat dalam kesepakatan senilai 40,7 juta dolar AS (sekitar Rp734,9 miliar), yang menurutnya, menunjukkan apresiasi Maroko terhadap kualitas Indonesia.
Sebagai imbalannya, Maroko telah menjadi sumber pupuk penting bagi Indonesia, memasok pupuk nitrogen dan fosfat senilai lebih dari 45 juta dolar AS (sekitar Rp812,4 juta) pada tahun lalu.
Pemanfaatan kemitraan secara optimal oleh Indonesia, kata Mendag, akan secara langsung mendukung visi Pemerintah Indonesia untuk ketahanan pangan.
"Ekonomi kita sangat saling melengkapi," katanya.
Posisi strategis tersebut memungkinkan Indonesia untuk memperkuat rantai pasokan, memperluas investasi, dan mempromosikan kemitraan yang saling menguntungkan antara sektor swasta.
Pengumuman resmi baru-baru ini dari Wakil Menteri yang bertanggung jawab atas perdagangan luar negeri semakin memperkuat keterlibatan ini, katanya.
Dan Perjanjian Pengakuan Bersama (Mutual Recognition Agreement/MRA) untuk Produk Halal antara Indonesia dan Maroko yang ditandatangani tahun ini juga, menurutnya, membuka momentum baru untuk kesepakatan pengakuan antara kedua negara.
Dia berharap perjanjian tersebut akan mendorong perdagangan yang saling melengkapi dan memperluas akses pasar bagi kedua negara sehingga membantu meningkatkan kesejahteraan rakyat Maroko dan Indonesia.
Sementara itu, Duta Besar Maroko untuk Indonesia Redouane Houssaini menyatakan bahwa Indonesia menempati posisi strategis dan istimewa dalam kebijakan luar negeri Maroko.
Meskipun terpisah jauh secara geografis, hal itu menurutnya tampak tidak relevan karena kedua negara memiliki kesamaan yang luar biasa.
"Kita adalah dua peradaban kuno, yang dibentuk oleh tradisi budaya yang kaya. Dua negara mayoritas Muslim moderat, yang mempromosikan toleransi, hidup berdampingan, dan nilai-nilai keagamaan yang tercerahkan melalui Islam yang moderat," katanya.
"Dua negara demokrasi yang stabil, berkomitmen pada multilateralisme, menjunjung tinggi nilai-nilai bangsa terkait, menghormati hukum internasional, dan mempromosikan dialog damai," katanya menambahkan.
Penandatanganan Kemitraan Strategis Maroko-Indonesia pada 2023 mengakui potensi besar hubungan bilateral kedua negara.
Selain itu, melalui perjanjian perdagangan masing-masing negara dan perjanjian perdagangan preferensial di masa mendatang, bisnis dari kedua negara juga dapat memudahkan akses ke pasar gabungan yang terdiri dari lebih dari 1,8 miliar konsumen di seluruh Afrika, Eropa, dan Asia.
Maroko juga melihat peluang luar biasa di bidang energi terbarukan, teknologi hijau, mobilitas listrik, pendidikan tinggi, pelatihan kejuruan, dan pertukaran akademis, dan menyambut lebih banyak mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan studi mereka di Maroko, demikian katanya.
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































