Jakarta (ANTARA) - Capaian kontingen Indonesia dalam ASEAN Para Games 2025 Thailand membuka fase transisi penting dalam pembinaan olahraga disabilitas nasional.
Hasil kompetisi regional tersebut bukan diposisikan hanya sebagai tolok ukur prestasi jangka pendek, tapi juga dijadikan dasar pengambilan keputusan strategis menuju Asian Para Games 2026 di Nagoya, dan Paralimpiade 2028 di Los Angeles.
Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga RI dan Komite Paralimpiade Nasional (NPC) Indonesia secara terbuka menempatkan kelanjutan pemusatan latihan nasional (pelatnas) dan program regenerasi atlet sebagai dua sumbu utama pembinaan.
Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menegaskan bahwa pelatnas jangka panjang tetap menjadi kebijakan inti pasca-ASEAN Para Games. Pemerintah melalui Kemenpora telah menjalankan pola pelatnas yang tidak terputus untuk cabang olahraga unggulan yang diproyeksikan ke Olimpiade dan Paralimpiade.
Kemenpora telah menetapkan 10 cabang olahraga prioritas yang sejak 2024 telah menyelenggarakan pelatnas berkelanjutan demi Indonesia kembali bisa mengukir sejarah di ajang olahraga disabilitas tertinggi dunia tersebut.
Skema ini menunjukkan pendekatan selektif berbasis prioritas prestasi, dengan fokus pada cabang dan atlet yang dinilai memiliki peluang kompetitif di level global.
Pemerintah juga menegaskan bahwa atlet yang telah diproyeksikan pasca-Paralimpiade Paris langsung kembali masuk pelatnas, tanpa jeda panjang, sebagai bagian dari komitmen pembinaan berkesinambungan.
Pada 2026, Kemenpora merencanakan peninjauan menyeluruh untuk pemetaan atlet menuju Asian Para Games Nagoya 2026 dan Paralimpiade Los Angeles 2028, termasuk penentuan prioritas pembinaan.
Hasil ASEAN Para Games 2025 memberikan legitimasi awal terhadap pendekatan tersebut. Pada hari keempat penyelenggaraan yang menyisakan satu hari kompetisi, kontingen Indonesia telah melampaui target 82 emas, dengan capaian 101 emas, 103 perak, dan 88 perunggu. Kontribusi emas terbesar berasal dari cabang para atletik dan para renang. Kedua cabang tersebut masing-masing menyumbang 38 dan 22 medali emas, dan masih berpeluang untuk tambah medali di hari terakhir kompetisi pada Minggu (25/1).
Baca juga: Round-up: Indonesia lewati target, kumpulkan 101 medali emas
Baca juga: Menpora minta atlet tetap total meski target emas sudah tercapai
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































