Puluhan pasien cuci darah RSUD Aceh Tamiang kembali akses layanan

1 week ago 12

Aceh Tamiang (ANTARA) - Puluhan pasien cuci darah di RSUD Muda Sedia Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, kembali mengakses layanan hemodialisis setelah fasilitas tersebut pulih dan beroperasi kembali pascabencana banjir besar melanda wilayah itu.

Direktur RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang Andika Putra menjelaskan layanan hemodialisis sempat mengalami kerusakan total akibat banjir, namun seluruh peralatan berhasil dipulihkan dan kembali beroperasi sejak 24 Desember 2025.

"Kami memang hemodialisis termasuk yang terdampak kerusakan total dan seluruh peralatan sudah dipulihkan dan mulai beroperasi sejak tanggal 24 Desember," kata Andika ditemui ANTARA di RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang, Sabtu.

Ia menyebutkan total pasien hemodialisis yang terdaftar di RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang berjumlah 47 orang, yang sebelumnya terpaksa menjalani cuci darah di luar daerah selama banjir melanda wilayah itu.

Selama layanan terhenti, pasien menjalani hemodialisis ke sejumlah rumah sakit di Langsa, Aceh Timur (Aceh), Pangkalan Brandan, hingga Medan di Sumatera Utara demi memastikan terapi cuci darah tetap berjalan rutin.

Direktur RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang Andika Putra menjawab pertanyaan ANTARA ditemui di RSUD Muda Sedia Aceh Tamiang di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (24/1/2026). ANTARA/Harianto

Namun, pasca layanan kembali dibuka, rumah sakit telah memanggil seluruh pasien untuk kembali, namun hingga kini baru 23 pasien yang kembali menjalani cuci darah di RSUD Muda Sedia.

Menurut Andika, sebagian pasien belum kembali karena kondisi rumah belum pulih sepenuhnya, sehingga mereka masih tinggal di luar daerah dan melanjutkan layanan cuci darah di rumah sakit rujukan.

"Jadi ini menjadi salah satu prioritas yang dibuka setelah UGD, rawat inap dan rawat jalan, maka cuci darah prioritas. Baru selanjutnya nanti yang lain," bebernya.

Saat ini, lanjutnya, layanan hemodialisis melayani sekitar lima hingga enam pasien per hari dengan jadwal operasional Senin hingga Sabtu, guna memenuhi kebutuhan terapi rutin seluruh pasien terdaftar.

Andika menegaskan rumah sakit siap melayani pasien secara optimal 100 persen, didukung peralatan baru termasuk instalasi air RO, serta koordinasi intensif antara petugas, dokter, perawat, dan pasien.

Adli (50) warga Desa Pekan Seruway Kecamatan Seruway salah satu pasien hemodialisis RSUD Aceh Tamiang diwawancara ANTARA di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (24/1/2026). ANTARA/Harianto

Adli (50) warga Desa Pekan Seruway Kecamatan Seruway salah satu pasien hemodialisis RSUD Aceh Tamiang mengaku senang layanan di cuci darah kembali dapat diakses. Dirinya pertama kali kembali setelah layanan pulih pasca bencana banjir.

Adli telah menjalani cuci darah di RSUD Aceh Tamiang sejak 2008 akibat gagal ginjal, dengan jadwal terapi dua kali sepekan, sehingga layanan hemodialisis menjadi kebutuhan vital baginya.

Selama banjir, Adli terpaksa mengakses layanan cuci darah ke Lhokseumawe dengan waktu tempuh sekitar lima jam, sebelum akhirnya kembali berobat di RSUD Aceh Tamiang setelah fasilitas dipulihkan.

Ia menyambut baik kembalinya layanan tersebut karena jarak rumah ke rumah sakit lebih dekat dibandingkan harus dirujuk ke luar daerah demi kesinambungan terapi hemodialisis.

"Ketika di sini tidak bisa cuci darah, saya langsung ke Lhokseumawe untuk cuci darah, perjalanan cukup jauh ada 5 jam," ucap Adli.

Saban menjawab pertanyaan ANTARA diwawancara di sela menemani istrinya menjalani cuci darah di RSUD Muda Sedia di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (24/1/2026). ANTARA/Harianto

Saban, suami salah satu pasien hemodialisis RSUD Aceh Tamiang, mengungkapkan istrinya kembali mengakses layanan setelah sempat mencari rumah sakit rujukan pascabanjir melanda wilayah tersebut dalam kondisi akses transportasi terbatas.

Istrinya telah menjalani cuci darah rutin dua kali sepekan hampir empat tahun di RSUD tersebut, namun saat rumah sakit terdampak banjir, perawatan dialihkan ke Gebang Sumatera Utara dengan perjalanan jauh.

Saban menuturkan jarak tempuh ke fasilitas alternatif mencapai dua jam, sementara akses ke RSUD kini memutar akibat jembatan patah dan genangan, sehingga perjalanan menjadi lebih sulit bagi keluarga pasien setempat.

Menurut dia kembalinya layanan hemodialisis disambut lega keluarga, karena mengurangi biaya hidup selama menyewa tempat dekat rujukan saat RSUD Aceh Tamaing belum bisa diakses.

Saat banjir, kondisi darurat sempat membuat istri Saban melewatkan tiga sesi dialisis, memicu kepanikan keluarga yang kesulitan berkomunikasi dan mencari jalur keluar berlumpur.

Dengan layanan kembali beroperasi, Saban berharap pemulihan fasilitas kesehatan memberi kepastian perawatan bagi warga yang sakit di Aceh Tamiang.

Baca juga: Penyintas bencana mulai tempati huntara di Kayu Pasak Palembayan Agam

Salah satu pasien menjalani cuci darah di RSUD Muda Sedia di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Sabtu (24/1/2026). ANTARA/Harianto

Baca juga: Mendagri puji normalisasi sungai di Hutanabolon Tapanuli Tengah

Baca juga: Bupati Tanah Datar pastikan pemerintah lengkapi isi perabotan huntara

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |