Psikolog sarankan remaja kenali emosi demi masa depan

2 months ago 14

Jakarta (ANTARA) - Psikolog Remaja dan Anak Vera Itabiliana menyerukan kepada remaja agar dapat mengenali emosi supaya bisa menentukan langkah hidup yang lebih baik.

"Semakin remaja mengenali emosi dan nilai-nilainya, semakin mudah ia menentukan langkah dan pilihan hidup yang sesuai," kata Psikolog Lulusan Universitas Indonesia itu kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Vera mengatakan hal tersebut agar para remaja kian memahami gejolak perasaan yang kerap timbul.

Baca juga: Psikolog: Keluarga perlu hadirkan suasana agar anak aman bercerita

Selain itu, ia juga merekomendasikan agar remaja dapat menyadari perasaan dan reaksi diri.

"Coba kenali kapan merasa senang, marah, kecewa, atau takut dan apa pemicunya," jelasnya.

Langkah seperti menuliskan pikiran dan perasaan dalam jurnal atau buku harian juga dapat menjadi pilihan.

Baca juga: Pakar: Hari Keluarga Internasional waktu perkuat "bounding" ayah-anak

Serta melakukan refleksi nilai dan minat pribadi mengenai hal apa yang penting, yang membuat bersemangat serta belajar menerima kekurangan.

"Tidak harus selalu sempurna untuk diterima," katanya.

Selain itu, bila dirasa membutuhkan bantuan terkait apa yang dirasakan atau persoalan yang dialami bisa meminta bantuan kepada orang tua, guru BK, atau orang yang dianggap terpercaya dan peduli.

Baca juga: Mewaspadai perilaku kekerasan anak dari pola asuh di rumah

Sebelumnya, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merekomendasikan sejumlah upaya, mulai dari deteksi dini, pengembangan dukungan psikososial dari sekolah, hingga penguatan regulasi dan prosedur penanganan kekerasan, sebagai upaya pencegahan paham ekstremisme pada anak.

Komisioner KPAI Klaster Pendidikan, Waktu Luang, dan Budaya Aris Adi Leksono di Jakarta, Selasa (11/11), mengatakan bahwa pihaknya menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa ledakan diduga bersumber dari rakitan bahan peledak yang terjadi di SMAN 72 Jakarta. Kasus itu melibatkan seorang peserta didik sebagai terduga pelaku.

Baca juga: Pola asuh tanpa kekerasan bikin anak lebih percaya diri dan kuat

"Peristiwa ini tidak hanya mencederai rasa aman di lingkungan pendidikan, tetapi juga menunjukkan adanya tantangan serius dalam membangun budaya sekolah yang ramah anak dan antikekerasan," katanya.

Hasil pemantauan awal mengungkapkan bahwa pelaku menunjukkan perubahan perilaku signifikan beberapa bulan terakhir: tertutup, serta lebih sering mengakses konten bernada radikal di platform digital.

Motif utama terduga pelaku diduga merupakan kombinasi antara emosi pribadi yang tidak terkendali dan internalisasi narasi ekstrem dari ruang digital yang memengaruhi cara berpikirnya.

Baca juga: Tips menerapkan "co-parenting" bagi pasangan cerai yang memiliki anak

Pewarta: Sinta Ambarwati
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |