Amerika Serikat (ANTARA) - Seorang pria asal Illinois, Amerika Serikat (AS), didakwa telah meretas hampir 600 akun Snapchat milik perempuan.
Kasus ini mengejutkan banyak pihak karena melibatkan jumlah korban yang besar dan menggunakan tipu daya untuk memperoleh kepercayaan, lapor Gizchina, Jumat (9/1). Dia disebut mencuri foto-foto pribadi dengan berpura-pura sebagai petugas resmi Snapchat dan meminta kode masuk akun kepada para korban.
Dokumen pengadilan menunjukkan bahwa Kyle Svara (26) menggunakan kebohongan untuk mendapatkan alamat email, nomor telepon, dan nama akun Snapchat antara Mei 2020 hingga Februari 2021. Dia mengirim pesan kepada lebih dari 4.500 orang untuk meminta kode akses.
Dengan menggunakan kode-kode tersebut, Svara berhasil mengakses sekitar 570 akun. Sebagian foto yang dicuri kemudian dibagikan atau dijual secara daring.
Baca juga: Rusia blokir Snapchat dan batasi layanan panggilan FaceTime
Pihak berwenang menyatakan bahwa Svara tidak bertindak sendirian demi keuntungan pribadi. Dia menjual jasa peretasannya di situs-situs seperti Reddit.
Kepada klien, dia mengklaim bisa meretas akun Snapchat perempuan dan menjual atau menukar foto-foto mereka.
Salah satu kliennya adalah Steve Waithe, mantan pelatih di Northeastern University, yang menggunakan jasa Svara untuk meretas akun Snapchat perempuan anggota tim olahraga. Waithe telah dipenjara pada 2024 atas sejumlah kejahatan, termasuk pelecehan siber dan pemerasan seksual terhadap lebih dari 100 perempuan.
Svara juga meretas akun perempuan di Plainfield, Illinois, serta mahasiswi di Colby College, Maine. Pejabat menyatakan bahwa tindakannya menunjukkan rencana yang jelas untuk menargetkan perempuan dan mengambil keuntungan dari gambar-gambar yang dicuri.
Mereka menyebut kasus ini sebagai salah satu peretasan Snapchat terbesar dalam beberapa tahun terakhir yang dilakukan dengan kebohongan dan penyalahgunaan kepercayaan.
Kini Svara menghadapi sejumlah dakwaan, termasuk pencurian identitas, penipuan melalui sarana elektronik (wire fraud), penipuan komputer, serta klaim palsu yang berkaitan dengan pornografi anak. Dia dijadwalkan hadir di pengadilan federal Boston pada 4 Februari.
Jika dinyatakan bersalah, ia dapat menghadapi hukuman penjara yang panjang. Dakwaan pencurian identitas membawa hukuman minimal dua tahun. Penipuan elektronik dapat dihukum hingga 20 tahun penjara, sementara penipuan komputer dan klaim palsu dapat menambah hukuman hingga lima atau delapan tahun.
Pejabat menyatakan bahwa kasus ini menunjukkan risiko penipuan dan peretasan daring. Masyarakat diimbau untuk menjaga kerahasiaan kode dan informasi pribadi. Kasus ini juga menjadi peringatan bagi siapa pun yang mencoba mencuri gambar pribadi bahwa hukum akan bertindak.
Para korban dan kelompok pemerhati menyebut kasus ini sebagai bukti pentingnya aturan untuk melindungi privasi dan mencegah kerugian lebih lanjut.
Baca juga: Remaja di Jepang diduga lakukan serangan siber berkat bantuan AI
Baca juga: Stellantis alami kebocoran data pelanggan akibat peretasan
Baca juga: Kolaborasi antarpelaku membuat risiko serangan siber semakin kompleks
Penerjemah: Pamela Sakina
Editor: Natisha Andarningtyas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































