Pilah dan olah sampah agar lingkungan lebih asri

3 months ago 17

Jakarta (ANTARA) - Sampah rumah tangga sering sekali dianggap sebagai masalah sepele, padahal jika tidak dikelola dengan baik, tumpukan sampah tersebut dapat menimbulkan dampak serius terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan.

Langkah awal yang bisa dilakukan dalam mengelola sampah adalah dengan memilah. Proses memilah sampah sebenarnya sangat mudah, namun masih banyak orang yang malas melakukannya karena satu alasan: ribet.

Sampah rumah tangga pada umumnya berupa sampah organik seperti sisa makanan, ampas kopi atau teh, sayuran, kulit buah, serta daun kering; sampah anorganik seperti botol plastik, kaleng bekas, dan kertas; serta sampah B3 (Bahan Berbahaya Beracun) seperti baterai bekas, produk pembersih, dan obat-obatan.

Setelah dipilah, sampah-sampah tersebut dapat diolah kembali agar tidak menumpuk sia-sia, bahkan bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang berguna untuk kehidupan sehari-hari.

Mengolah sampah organik

Sebaiknya, sampah organik tidak dibiarkan membusuk dan menimbulkan bau tidak sedap akibat bakteri dari proses penguraian. Kita bisa mengolahnya menjadi pupuk kompos yang bermanfaat untuk tanaman.

Setelah selesai minum teh atau kopi, alangkah baiknya untuk tidak membuang sisa ampasnya. Sebab, sampah organik berupa ampas dapat dimanfaatkan sebagai penyerap bau alami yang efektif, terutama ketika diletakkan di dalam kulkas.

Berikut langkah untuk memanfaatkan sisa ampas:

  1. Masukkan ampas ke dalam cangkir berisi sedikit air.
  2. Teteskan air perasan lemon atau jeruk nipis ke dalamnya. Kemudian aduk hingga seluruh bahan menyatu.
  3. Terakhir, letakkan cangkir di dalam kulkas.

Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan memasukkan ampas ke dalam kantong berjaring, lalu meletakkannya di dalam kulkas.

Beberapa jenis sampah juga bisa ditanam kembali. Sisa sampah organik seperti batang tanaman yang masih hidup, rimpang, dan tunas, dapat dimanfaatkan untuk menumbuhkan bahan makanan yang baru, lho.

Misalnya, batang daun bawang bisa ditanam ulang di pot atau tanah, sementara rimpang seperti jahe dapat disimpan di tempat lembab hingga tumbuh tunas baru

Selain menghemat biaya kebutuhan dapur, cara ini turut berkontribusi menjaga kelestarian lingkungan dengan meminimalkan pembuangan sampah organik.

Lalu bagaimana dengan sampah anorganik seperti botol plastik dan kaleng yang tidak mudah terurai?

Di tangan orang-orang kreatif, sampah-sampah tersebut bisa didaur ulang menjadi barang bernilai tambah. Misalnya, botol plastik yang kondisinya masih bagus bisa dimanfaatkan sebagai vas bunga, bungkus kemasan bekas juga bisa dirangkai menjadi tas atau kerajinan tangan lainnya.

Namun bagi mereka yang tidak punya waktu luang, cukup serahkan ke bank sampah dan kita bisa dapat cuan.

Baca juga: Jakarta Utara jadi proyek percontohan penanganan sampah organik

Baca juga: Sudin SDA kembangkan inovasi pengolahan air limbah jadi media tanam

Baca juga: RW di Jakpus harus miliki bank sampah untuk kebersihan lingkungan

Pewarta: Nadine Laysa Amalia
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |