Shanghai (ANTARA) - Para investor di seluruh dunia kembali berbondong-bondong menghadiri ajang Pameran Impor Internasional China (China International Import Expo/CIIE), merasakan peluang yang diciptakan oleh pasar China yang sangat luas dan terbuka pada edisi kedelapan acara tersebut.
Di tengah keramaian ajang CIIE ini, Joy Wing Mau Chile SpA menyedot perhatian pengunjung dengan penawaran terbarunya, yaitu bluberi berukuran besar dari Peru, yang masing-masing seukuran koin dolar AS dan memiliki tekstur yang renyah.
Bluberi Belahan Bumi Selatan ini menonjol karena rasanya yang unik dan, yang lebih penting lagi, bluberi ini mengisi kekosongan musiman, sehingga konsumen China dapat menikmati bluberi segar sepanjang tahun, ujar Guo Min, wakil direktur pemasaran perusahaan itu di China.
Seiring dengan jumlah penduduk berpendapatan kelas menengah di China yang diperkirakan akan melampaui 800 juta orang dalam satu dekade ke depan, permintaan akan variasi produk konsumen terus meningkat. "Konsumen China tidak lagi sekadar cukup makan. Mereka kini ingin memiliki lebih banyak pilihan," kata Guo.
Dari perkebunan tropis di Asia Tenggara hingga kebun buah di Amerika Selatan, perusahaan multinasional ini kini memasok lebih dari 300 jenis buah dari lebih dari 40 negara dan kawasan, menyajikan produk segar ke meja makan masyarakat China.
Ini hanyalah gambaran dari pergeseran yang lebih besar, di mana perusahaan-perusahaan global berlomba-lomba untuk mendapatkan peluang di China, dan di mana konsumen menuntut lebih banyak variasi, kualitas yang lebih tinggi, dan inovasi yang konstan.
Sebagaimana diuraikan dalam rekomendasi untuk perumusan Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030), China menempatkan perluasan keterbukaan berstandar tinggi di posisi teratas dalam agenda nasionalnya, sambil mendorong pengembangan impor dan ekspor secara seimbang.
Setelah sebelumnya didorong oleh ekspor, ekonomi China kini semakin memperluas impornya untuk mempromosikan peningkatan industri dan memenuhi aspirasi rakyatnya yang terus meningkat akan kualitas hidup yang lebih baik.
Komitmen China untuk membuka pintunya lebih lebar sudah terbukti. Negara itu telah menduduki peringkat sebagai pasar impor terbesar kedua di dunia selama 16 tahun beruntun dan tingkat tarifnya secara keseluruhan telah turun menjadi 7,3 persen.
Saat ini, hanya 29 jenis barang yang masih masuk dalam daftar negatif investasi asing di China, dan tidak ada satu pun di sektor manufaktur.
Menurut data yang dirilis oleh Institut Ekonomi dan Politik Dunia Akademi Ilmu Sosial China dan Pusat Penelitian Forum Ekonomi Internasional Hongqiao pada Rabu (5/11), indeks keterbukaan China naik 0,5 persen secara tahunan (year on year) pada 2024, berbanding terbalik dengan penurunan 0,05 persen dalam indeks keterbukaan dunia.
Diluncurkan pada 2018 sebagai satu-satunya pameran perdagangan nasional bertema impor di dunia, CIIE menjadi simbol penting dari keterbukaan ini. CIIE edisi tahun ini menampilkan partisipasi dari 155 negara, kawasan, dan organisasi internasional, dengan 4.108 peserta pameran dari luar negeri yang memadati lebih dari 430.000 meter persegi ruang pameran, menjadikannya skala terbesar dalam sejarah penyelenggaraannya.
Bagi para raksasa global, pasar China yang terbuka berarti persaingan yang semakin ketat, tetapi juga membuka jalan baru untuk pertumbuhan dan inovasi.
Salah satu perusahaan yang menjadikan CIIE sebagai panggungnya sejak awal adalah Panasonic. Tahun ini, perusahaan tersebut menempati gerai seluas 900 meter persegi, yang merupakan salah satu gerai terbesar di seksi produk konsumen dalam pameran tersebut.
"China telah bertransformasi dari sebuah kekuatan manufaktur menjadi negara konsumen, inovasi, dan teknik yang besar," kata Tetsuro Homma, Wakil Presiden Eksekutif Panasonic Holdings Corporation sekaligus Kepala Eksekutif Grup untuk China dan Asia Timur Laut.
Panasonic berevolusi bersama pasar China, mengasah daya saingnya di tempat yang Homma gambarkan sebagai "tempat pelatihan bagi perusahaan."
China menjadi salah satu pasar luar negeri Panasonic yang paling penting, menyumbangkan sekitar 30 persen dari keuntungan global perusahaan itu. Homma berkata, "Di perusahaan kami, ada ucapan yang mengatakan, jika Anda gagal di China, Anda akan gagal di tingkat global."
Sementara itu, CIIE bukan hanya menjadi platform untuk membeli produk dari seluruh dunia, tetapi juga panggung yang memberi manfaat bagi dunia.
Dengan perlakuan tarif nol pada 100 persen jalur tarif bagi negara-negara paling kurang berkembang serta negara-negara Afrika yang menjalin hubungan diplomatik dengan China, pameran ini membuka peluang baru bagi para eksportir kecil untuk masuk ke pasar global.
Prince Muramba, seorang peserta yang memamerkan produk kopi dari Rwanda, kembali mengikuti CIIE tahun ini setelah melakukan debutnya tahun lalu.
Berdiri di tengah-tengah stan yang ramai, dia menyoroti peluang yang ditawarkan acara ini bagi produsen kecil seperti dirinya. "China berupaya semaksimal mungkin agar kami lebih mudah membawa produk kami ke sini," ujarnya. "Kami hanya perlu datang dengan barang-barang kami."
Muramba ingin berekspansi ke pasar-pasar baru melalui pameran tersebut. "Semoga setelah acara tahun ini, kopi saya akan tersedia secara daring dan di toko-toko fisik di seluruh China," katanya.
Pewarta: Xinhua
Editor: Junaydi Suswanto
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































