Peran tata kelola dalam pertumbuhan pariwisata

13 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) -

Founder dan CEO Mora Group, perusahaan manajemen hospitality, Andhy Irawan menilai pertumbuhan pariwisata nasional perlu terus diperkuat melalui tata kelola ekosistem yang lebih terintegrasi agar dampaknya semakin dirasakan pelaku industri perhotelan.

Hal itu disampaikan Andhy dalam diskusi Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) bertajuk “Di Balik Klaim Pertumbuhan Pariwisata: Perspektif Bisnis Hotel” di Press Room Kementerian Pariwisata, Selasa.

“Kalau dibilang pertumbuhan pariwisata, kacamata saya adalah bagaimana ekosistem pariwisata itu bergerak baik semuanya. Karena enggak bisa dilihat dari satu sisi bahwa pertumbuhan ini baik,” kata Andhy.

Baca juga: Kemenpar: Konektivitas pilar penting pertumbuhan pariwisata

Menurut dia, pertumbuhan pariwisata pada praktiknya menunjukkan dinamika yang beragam di lapangan. Ia menyebut ada hotel yang mencatatkan pertumbuhan, namun ada pula yang belum tumbuh optimal.

“Di satu sisi ada yang tumbuh, tapi di sisi yang lain ada yang tidak tumbuh. Dan ini kan harus equal sebenarnya,” ujarnya.

Andhy menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat ekosistem pariwisata nasional. Ia menilai pariwisata tidak dapat berjalan hanya oleh satu pihak.

Baca juga: Pemerintah siapkan stimulus jaga ekonomi tumbuh di sektor pariwisata

“Bukan tugas industri saja, bukan tugas pemerintah saja. Tapi saat ini perlu kolaborasi bersama,” katanya.

Ia menjelaskan ekosistem pariwisata mencakup berbagai unsur yang saling terkait, mulai dari hotel, agen perjalanan, hingga asosiasi dan pemerintah. Perbedaan cara pandang antar unsur tersebut, menurut dia, perlu disatukan agar tujuan pertumbuhan pariwisata dapat tercapai.

“Kalau cara pandang ekosistem berbeda-beda, pasti output-nya juga agak tidak seperti yang diharapkan. Karena tidak mudah memang dan itu harus duduk bareng,” ujarnya.

Baca juga: Menpar sebut kunjungan wisman lampaui 1,39 juta pada September 2025

Terkait promosi pariwisata, Andhy menilai pemerintah memiliki peran penting sebagai pengatur dan pengarah. Ia menegaskan negara tidak berada pada posisi menjual langsung, melainkan mengoordinasikan seluruh ekosistem.

“Bahasa saya adalah kayak orkestra. Orkestranya itu negara, sedangkan ekosistem yang dibentuk itu alat-alat musiknya. Jadi negara itu tidak menjual, tapi mengatur,” kata Andhy.

Ia menilai partisipasi Indonesia dalam berbagai pameran pariwisata internasional merupakan langkah positif. Namun, menurut dia, upaya tersebut perlu diperkuat dengan target dan ukuran kinerja yang lebih spesifik.

Baca juga: Menilik potensi pariwisata jadi sumber pertumbuhan ekonomi Lampung

“Kita setiap tahun ikut, tapi boleh dilihat hasilnya. Ada, tapi targetnya enggak detail. KPI-nya enggak detail,” ujarnya.

Andhy juga menanggapi capaian target kunjungan wisatawan yang dinilai berhasil secara angka. Namun, ia mendorong agar capaian tersebut terus dievaluasi dari sisi dampaknya terhadap industri.

Baca juga: Gen Z dan milenial jadi motor pertumbuhan pariwisata dunia

Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |