Jakarta (ANTARA) - Penggiat konservasi kupu-kupu Yohanes Agus Sunarko dari Yayasan Negeri Kupu-Kupu Lestari (Nektar) menjelaskan bahwa kupu-kupu adalah bioindikator kelestarian suatu lingkungan, mengingat satwa itu sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan habitat.
"Istilah bioindikator kalau didefinisikan sebagai organisme yang sensitif terhadap kondisi lingkungan itu bisa kita buktikan dengan keberadaan aktivitas kupu-kupu yang melakukan mud puddling atau menghisap nutrisi pada tanah basah," Wakil Ketua Pengurus Yayasan Nektar Yohanes Agus Sunarko dalam diskusi daring diikuti dari Jakarta, Kamis.
Dia menjelaskan kupu-kupu tidak akan melakukan kegiatan tersebut di ekosistem yang mengalami tekanan lingkungan besar, seperti di wilayah perkotaan dan area pertanian yang menggunakan pestisida dalam periode lama.
Baca juga: Akademisi Uncen temukan 87 spesies kupu-kupu di Distrik Arso Papua
"Karena polutan atau terganggunya mekanisme yang ada di air, udara, dan tanah tersebut," tambahnya.
Mengingat perannya di dalam ekosistem sebagai penyerbuk dan indikator kondisi suatu lingkungan, dia menyoroti adanya ancaman terhadap populasi kupu-kupu sebagai dampak dari perubahan iklim.
Termasuk perubahan suhu ekstrem yang dapat mematikan telur, larva, dan pupa, yang sangat sensitif. Selain itu perubahan waktu mekarnya nektar akibat kondisi perubahan iklim dapat menetaskan larva kupu-kupu, padahal sumber makannya belum tersedia.
Baca juga: Barantin fasilitasi ekspor opsetan kupu-kupu Sultra ke AS dan Belanda
Terdapat juga ancaman dari bencana alam, seperti kebakaran hutan dan lahan, yang menghancurkan habitat dan populasi dengan cepat.
"Jangankan kupu-kupu sebagai bioindikator yang sensitif, kita manusia saja ketika terjadi pergeseran musim, kehidupan kita juga ikut bergeser. Sebagai contoh yang mengalami dampak langsung itu petani," jelasnya.
Menurut data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dari 17.500 spesies kupu-kupu, setidaknya 2.500 diantaranya teridentifikasi dapat ditemui di Indonesia. Dengan sekitar 25 diantaranya masuk dalam spesies yang dilindungi.
Baca juga: Balai Karantina Sumut gagalkan pengiriman 6.527 kupu-kupu ke Hanoi
Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































