Jakarta (ANTARA) - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menargetkan biaya dana (cost of fund) tetap rendah atau tidak melebihi kisaran 3,1-3,2 persen hingga paruh pertama 2026 dengan memanfaatkan likuiditas pasar yang diproyeksikan ample.
“Menurut banyak ekonom, likuiditas ample ini sampai dengan Juni. Sampai dengan Juni ini, kita punya kesempatan menjaga cost of fund supaya tidak melebihi 3,1-3,2 persen. Dari sana kita akan nyerok laba lebih baik,” kata Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu di Jakarta, Senin.
Ia menjelaskan bahwa jika cost of fund BTN bisa stabil di level 3 persen maka laba perseroan diproyeksikan meningkat. Namun hal ini sangat tergantung likuiditas pasar.
“Kalau market-nya liquid, kita masih bisa menjaga cost of fund di 3-3,1 persen. Tapi kalau likuiditasnya jadi mengetat, nanti pada perang bunga,” kata Nixon.
Ia menambahkan bahwa perseroan akan melihat situasi kembali pada semester II 2026 serta mempertimbangkan apakah perlu menghimpun dana pihak ketiga (DPK) dengan bunga tinggi.
“Kita sudah perintahkan ke tim, semester I ini kemungkinan besar likuiditas ample, kemungkinan besar. Kalau semester II, nanti kita lihat situasinya (apakah likuiditas masih ample atau tidak),” ujar Nixon.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit dan pembiayaan BTN secara konsolidasian tumbuh 11,9 persen (year on year/yoy) mencapai Rp400,6 triliun pada 2025. Untuk semester I 2026, perseroan menargetkan pertumbuhan sebesar 8-10 persen.
Nixon mengatakan, strategi pertumbuhan kredit akan difokuskan pada enam bulan pertama. Pada periode ini, Kredit Program Perumahan (KPP) menjadi fokus utama, diikuti segmen consumer serta tambahan pada segmen corporate dan commercial.
“Pertumbuhan kredit di-push pada enam bulan pertama, menjaga bunga murah di-push di 6 bulan pertama. Itu dulu strateginya,” kata dia.
Untuk diketahui, BTN berhasil menekan cost of fund dari sebelumnya 4,1 persen pada 2024 menjadi 3,9 persen pada 2025.
Wakil Direktur Utama BTN Oni Febriarto Rahardjo menjelaskan bahwa secara bulanan, cost of fund pada Desember 2025 sudah turun ke angka 3,3 persen, bahkan pada November 2025 sempat mencapai 3,1 persen, meski masih ada instrumen dengan bunga tinggi yang belum jatuh tempo.
Adapun perolehan dana pihak ketiga (DPK) secara konsolidasian tumbuh kuat, yakni sebesar 14,6 persen yoy menjadi Rp437,4 triliun pada 2025.
Pertumbuhan DPK salah satunya didukung oleh akselerasi pertumbuhan transaksi digital, terutama di superapp Bale by BTN yang mencatatkan pertumbuhan jumlah pengguna (user) sebesar 66,1 persen yoy menjadi 3,7 juta hingga akhir 2025.
Meningkatnya jumlah user turut mendongkrak jumlah transaksi Bale yang melonjak 79,2 persen yoy menjadi 2,2 miliar per 31 Desember 2025. Sementara nilai transaksi menembus Rp103,6 triliun, naik 27,7 persen yoy.
Saldo user Bale by BTN juga terus meningkat, sebagaimana terlihat dari kontribusinya sebesar Rp22,8 triliun terhadap DPK BTN hingga akhir 2025.
Baca juga: BTN indikasikan rasio dividen lebih tinggi ke kisaran 25-30 persen
Baca juga: BTN nilai outlook kredit RI yang negatif berisiko naikkan biaya utang
Baca juga: Laba BTN tumbuh 16,4 persen capai Rp3,5 triliun sepanjang tahun 2025
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































