Jakarta (ANTARA) - Pengamat transportasi Djoko Setidjowarno dari Universitas Soegijapranata Semarang, Jawa Tengah mengungkapkan, teknologi Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF) dapat membantu penerbangan domestik.
"Kalau memang itu secara teknologi, saya kira di tengah sekarang harga avtur kita tinggi juga, kalau itu memang bisa maka sangat membantu," ujar Djoko saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Kamis.
Dirinya menambahkan bahwa salah satu yang menjadi persoalan mahalnya harga tiket penerbangan domestik dikarenakan harga avtur.
"Kalau itu memang bisa, bagus, terutama untuk penerbangan-penerbangan dalam negeri. Sejauh mana itu penelitiannya saya kira harus dibuktikan.Tentunya terdapat orang-orang yang memiliki kemampuan untuk meriset penggunaan bahan bakar tersebut, dan itu yang diperlukan oleh kita," katanya.
Baca juga: Pertamina Patra Niaga jaga penyaluran BBM subsidi sepanjang 2025
Sebagai informasi, Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan membentuk Tim Nasional Pengembangan Industri Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF).
Berbagai langkah percepatan implementasi dan pengembangan industri SAF nasional telah mulai dijalankan oleh masing-masing bidang kerja dalam tim nasional tersebut.
Pembentukan Tim Nasional SAF tersebut merupakan bagian dari mendorong penguatan dekarbonisasi transportasi, salah satunya transportasi udara.
Upaya percepatan dekarbonisasi sektor transportasi nasional terus diperkuat seiring target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) Indonesia. Sub sektor transportasi ditargetkan berkontribusi sebesar 5 persen terhadap penurunan emisi GRK sektor energi nasional pada tahun 2030.
Baca juga: ICPI: Harga avtur perlu turun guna tingkatkan konektivitas pariwisata
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) akan meluncurkan peta jalan dekarbonisasi sektor transportasi pada Mei 2026.
Peta jalan tersebut akan memuat langkah-langkah strategis pemerintah dalam melakukan dekarbonisasi di sektor transportasi untuk jangka menengah maupun jangka panjang.
Penyusunan perpres implementasi avtur ramah lingkungan atau sustainable aviation fuel juga menjadi salah satu komitmen Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
Selain itu, AHY juga menyoroti pemanfaatan karbon offset (tebus karbon) pada subsektor transportasi dalam mencapai target dekarbonisasi.
Baca juga: Kemenhub: ICAO setuju limbah sawit jadi bahan baku bahan bakar pesawat
Peta jalan tersebut juga diyakini oleh AHY akan menjadi kontribusi lintas kementerian, lembaga, dan BUMN, untuk melakukan dekarbonisasi.
Pewarta: Aji Cakti
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































