Jakarta (ANTARA) - President & CEO Dale Carnegie Global, Joe Hart mengemukakan pentingnya peran pemimpin sebuah perusahaan dalam mengadopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Menurut dia, di tengah pesatnya perkembangan AI, perlunya pemimpin perusahaan memikirkan strategi jangka panjang mengenai perubahan apa yang ingin dicapai melalui pemanfaatan teknologi tersebut.
“Memang hype-nya (AI), kayaknya kalau enggak sekarang ketinggalan. Tapi leaders itu perlu punya strategi jangka panjang, AI ini nanti akan digunakan untuk mentransformasi apa, lalu bagaimana melibatkan karyawan yang sudah ada supaya mereka juga bisa mendukung program jangka panjang itu,” kata Joe Hart dalam acara diskusi di Jakarta, Senin.
Joe Hart menilai menilai banyaknya kemunculan berbagai tools AI mendorong perusahaan terutama pemimpin bisnis tergoda menggunakannya secara sekaligus.
Namun pendekatan ini menimbulkan dampak kurangnya komunikasi sehingga tools tidak dimanfaatkan dengan baik, serta menurunnya kepercayaan karyawan lantaran minimnya keterbukaan soal tujuan penggunaan AI.
“Di sisi trust (kepercayaan), jadi ketika mereka mengadopsi AI tapi tidak ada keterbukaan tentang tujuannya seperti apa, maka begitu karyawan tiba-tiba tahu, mereka akan mengatakan, ‘wah tunggu dulu, ini buat saya nanti risikonya apa?’ mereka jadi takut,” tutur dia.
Baca juga: SpaceX minta izin luncurkan sejuta satelit untuk pusat data
Joe Hart mengatakan berdasarkan hasil temuan bahwa perubahan adopsi AI itu masih sebatas memperbaiki proses yang ada sekarang untuk menjadi lebih cepat, unggul, namun bukan pada transformasi bisnis itu sendiri.
“Kalau nanti larinya ke transformasi, otomatis orang itu pasti akan merasa ada risiko mereka akan dikurangi atau apa, dan itu kemudian penggunaannya jadi dicurigai,” imbuh dia.
Lebih lanjut, Joe Hart menekankan bahwa peran kepemimpinan penting dalam adopsi AI. Pemimpin perlu berani mengambil kendali, namun terlebih dahulu harus meningkatkan kapasitas diri agar mampu memimpin organisasi dalam menghadapi perubahan berbasis AI.
“Leader harus naik kelas dulu baru bisa memimpin organisasi mengadopsi AI. Kalau gaya kepemimpinan seperti sekarang (belum terlalu mengerti) mau mengadopsi AI, takutnya malah kacau balau,” ujar dia.
Sebagai perusahaan konsultan dan pelatihan pengembangan kepemimpinan, Dale Carnegie Indonesia yang juga bagian dari jaringan global Dale Carnegie memperkenalkan kerangka Take Command sebagai panduan kepemimpinan yang relevan di era AI.
Kerangka ini dibangun di atas tiga pilar utama, yakni mindset, relationships dan future. Pada mindset, membantu pemimpin bertindak dengan kejelasan, ketenangan, dan kepercayaan diri dalam menghadapi perubahan cepat.
Relationships, membangun kepercayaan, menjembatani kesenjangan lintas generasi, serta memperkuat kolaborasi di lingkungan kerja yang semakin kompleks.
Future, merancang strategi jangka panjang yang menyatukan kekuatan manusia dan teknologi secara intentional untuk pertumbuhan berkelanjutan.
Adapun kerangka ini menegaskan bahwa kepemimpinan di era AI bukan tentang menguasai teknologi, melainkan tentang mengambil kendali atas arah, budaya, dan perilaku organisasi.
Baca juga: Wamenkomdigi ingatkan risiko ancaman siber di era AI
Baca juga: Peran Strategis CRM dalam Mendorong Pertumbuhan Bisnis Berkelanjutan di Era AI
Baca juga: Wamenkomdigi: AI bisa dimanfaatkan untuk tingkatkan produktivitas
Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































