BRIN: Indonesia jadi laboratorium dunia teliti fenomena cuaca ekstrem

1 hour ago 1
Siklon tropis yang berkembang di kawasan sekitar, seperti Pasifik Barat dan Filipina, dapat memengaruhi kondisi cuaca Indonesia melalui penguatan sirkulasi atmosfer regional

Jakarta (ANTARA) - Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan Indonesia saat ini menjadi laboratorium dunia dalam penelitian fenomena cuaca ekstrem, karena berada di kawasan tropis dengan dinamika atmosfer yang kompleks dan saling berinteraksi lintas wilayah.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Eddy Hermawan dalam diskusi bertajuk “Mengurai Banjir Jakarta Berbasis Riset” di Jakarta, Rabu, mengatakan karakter geografis Indonesia membuat wilayah ini kerap terdampak berbagai sistem cuaca global, meskipun tidak selalu berada di jalur utama pembentukan fenomena ekstrem seperti siklon tropis.

"Siklon tropis yang berkembang di kawasan sekitar, seperti Pasifik Barat dan Filipina, dapat memengaruhi kondisi cuaca Indonesia melalui penguatan sirkulasi atmosfer regional," kata dia.

Baca juga: BMKG: Tiga bibit siklon tropis tingkatkan potensi cuaca signifikan

Dia menjelaskan dampak tersebut umumnya tidak berupa lintasan langsung siklon, melainkan penguatan angin dan peningkatan suplai uap air yang secara bertahap memicu hujan dengan durasi panjang di sejumlah wilayah, termasuk Jakarta dan kawasan sekitarnya.

Fenomena tersebut dipengaruhi oleh interaksi berbagai sistem atmosfer, seperti angin monsun, gelombang Kelvin, dan gelombang Rossby, yang membuat pola cuaca di Indonesia sering kali tidak mengikuti teori klasik siklon tropis yang hanya terjadi di laut lepas.

Eddy menilai keunikan lintang Indonesia, khususnya wilayah selatan, menjadikan kawasan ini lebih sensitif terhadap dampak bencana hidrometeorologi, meskipun pusat gangguan cuaca berada ratusan hingga ribuan kilometer dari wilayah daratan.

Baca juga: WMO desak penguatan sistem peringatan dini usai cuaca ekstrem Januari

Dengan kompleksitas tersebut, lanjut dia, Indonesia dipandang memiliki nilai strategis bagi pengembangan riset iklim dan atmosfer global, sekaligus menjadi basis penguatan sistem peringatan dini cuaca ekstrem berbasis data resolusi tinggi dan teknologi analitik mutakhir.

Sebagai peneliti senior bidang atmosfer dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Edy berharap Indonesia juga bisa melahirkan generasi periset yang unggul dan dapat mengimbangi perkembangan teknologi yang digunakan dalam penelitian global.

"Bikin sistem peringatan dini, yang tepat waktu, tepat sasaran, lokalisir dengan data-data yang high resolution tinggi. Kita harus menggunakan AI, big data, machine learning, deep learning, deep digging, deep multi-parameter, iya. Multi-technic, multi-method. Ini, sudah menjadi konsumsi teman-teman peneliti yang ada di Eropa, European Geophysical Union, Amerika Geophysical Union. Ini menjadi ladang empuk bagi mereka, semua fenomena ekstrem ada di sini, kita optimis juga bisa seperti mereka-mereka itu," ucapnya.

Baca juga: Modifikasi cuaca di Jakarta masih berlanjut untuk hadapi cuaca ekstrem

Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |