Jakarta (ANTARA) - Penelitian oleh Universitas Mulawarman (Unmul), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) menemukan beragam jenis satwa langka dan terancam punah di bentang alam Wehea-Kelay, Kalimantan Timur.
Peneliti Ahli Utama BRIN Tri Atmoko dalam pernyataan diterima di Jakarta, Rabu, menyampaikan, salah satu metode yang dilakukan dalam penelitian yaitu melalui pemantauan satwa liar dan tumbuhan, termasuk penggunaan teknologi kamera jebak dan perekam suara bioakustik.
Ia menyebutkan temuan terbaru itu menambah 275 jenis flora dan fauna jika dibandingkan penelitian serupa di tahun 2016 yang mencatat sebanyak 1.343 jenis.
"Selain karena metode yang digunakan lebih baik, pihak-pihak yang berkepentingan di Wehea-Kelay juga mempunyai komitmen, visi, dan misi yang sama terkait dengan pelestarian keanekaragaman rakyat yang ada di kawasan tersebut," kata Tri dalam Simposium Biodiversitas Wehea-Kelay yang diadakan di Samarinda, Kaltim pada hari ini.
Baca juga: Mengenal tiga jenis satwa sebagai Satwa Nasional Indonesia
Secara khusus dia menjelaskan temuan itu mencakup orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus morio), lutung kutai (Presbytis canicrus), rangkong gading (Rhinoplax vigil), trenggiling (Manis javanica), beruang madu (Helarctos malayanus), bangau Storm (Ciconia stormi), macan dahan (Neofelis diardi), dan kucing merah (Catopuma badia).
Wehea-Kelay merupakan bentang alam di luar kawasan konservasi. Dari total luas 532.143 hektare, hanya 19 persen yang berstatus hutan lindung.
Sisanya berupa konsesi kehutanan, perkebunan, dan area kelola masyarakat. Meski demikian, kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi termasuk menjadi habitat satwa langka yang hampir punah seperti orangutan.
Direktur Eksekutif YKAN Herlina Hartanto menyampaikan inisiatif kolaborasi pengelolaan sumber daya alam di Bentang Alam Wehea-Kelay, sudah dilakukan sejak 2015. Kawasan itu sendiri ditentukan mengikuti sebaran orangutan Kalimantan, yaitu sungai-sungai besar seperti Sungai Kelay, Sungai Wehea, dan sebagian kecil hulu Sungai Telen.
Baca juga: Kemenhut: Spesies burung baru bertambah bentuk keanekaragaman hayati
Selain menjadi habitat satwa langka, Wehea-Kelay merupakan hulu penting bagi Sungai Mahakam dan Sungai Segah. Lebih dari 5.000 km daerah aliran sungai mengalir ke Kabupaten Berau dan Kutai Timur, memberikan jasa lingkungan seperti fungsi hidrologis dan udara bersih. Sekitar 80 persen dari luas Wehea-Kelay masih berupa hutan yang berpotensi menyimpan 191 juta ton karbon dioksida ekuivalen, sehingga berperan besar dalam mitigasi perubahan iklim.
Karena itu sejak 2015 Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bersama YKAN mengajak berbagai pihak untuk mengelola kawasan itu.
"Studi terakhir menunjukkan ada penambahan temuan jenis flora dan fauna dari pendataan awal. Artinya pengelolaan kolaboratif di Wehea-Kelay telah memberikan dampak positif di mana kepentingan ekonomi, lingkungan dan sosial budaya dapat berjalan secara bersama-sama dengan menjaga nilai biodiversitas. Salah satunya habitat orangutan yang berada di luar kawasan konservasi," ujar Herlina.
Selain fokus pada perlindungan ekosistem, pengelolaan kawasan juga mencakup pemanfaatan hasil hutan bukan kayu melalui inovasi bioprospeksi. Kajian terhadap 60 jenis tumbuhan hutan yang terinspirasi dari pakan orangutan menemukan bahwa 11 di antaranya berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi, seperti kandungan fitokimia untuk kesehatan, antidiabetes, antikanker, dan sitotoksisitas.
Baca juga: Ini tiga jenis bunga yang menjadi simbol Puspa Nasional Indonesia
Baca juga: BRIN temukan 98 taksa baru flora-fauna & mikroorganisme sepanjang 2024
Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































