Jakarta (ANTARA) - Kepala Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ali Yansyah Abdurrahim menekankan perlunya pemahaman bahwa proses pemulihan setelah bencana mempertimbangkan kondisi sosial dan faktor adaptasi lingkungan dalam jangka panjang.
Dalam diskusi daring dipantau dari Jakarta, Selasa, Ali Yansyah Abdurrahim menyebut perspektif kependudukan menjadi salah satu aspek penting yang harus dipertimbangkan dalam pemulihan pascabencana.
"Pemulihan pascabencana selalu beririsan dengan dinamika penduduk, seperti perubahan struktur rumah tangga, migrasi sementara maupun permanen, hilangnya mata pencaharian, meningkatnya beban kelompok rentan, serta melemahnya jejaring sosial. Jika dimensi-dimensi ini tidak menjadi dasar perencanaan, maka pemulihan berisiko bersifat parsial dan bahkan menciptakan kerentanan baru," kata Ali Yansyah.
Tidak hanya itu, dalam bencana hidrometeorologi seperti yang terjadi di Sumatera beberapa waktu lalu, dalam kerangka ekologi manusia dan sistem sosial ekologi maka pemulihan juga harus mempertimbangkan proses adaptasi antara manusia dan lingkungan serta sistem sosial.
Baca juga: Pakar BRIN ingatkan hubungan krisis iklim dan frekuensi cuaca ekstrem
"Pemulihan harus dipahami sebagai proses sosial jangka menengah dan jangka panjang, bukan sekadar tahapan administrasi setelah status darurat dicabut," tuturnya.
Dia menyoroti bahwa fase transisi dari tanggap darurat menjadi pemulihan seringkali menjadi titik lemah dalam tata kelola kebencanaan. Termasuk jumlah bantuan yang berkurang, padahal sistem pemulihan belum sepenuhnya siap.
Untuk itu, dia memastikan BRIN terus memperkuat basis data sosial, pemetaan kerentanan, dan melakukan analisis kapasitas adaptif masyarakat untuk menjadi rekomendasi bagi para pengambil kebijakan.
"Dengan pendekatan ini, pemulihan diharapkan tidak hanya membangun kembali infrastruktur, tetapi juga memulihkan kehidupan sosial, ekonomi, dan martabat masyarakat terdampak," ujarnya.
Sebelumnya, curah hujan ekstrem yang dipengaruhi Siklon Tropis Senyar di wilayah di dekat Sumatera berkontribusi terhadap kejadian banjir dan longsor yang terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Baca juga: Pakar sebut ada potensi peningkatan cuaca ekstrem di Sumatra
Bencana hidrometeorologi tersebut menyebabkan 1.141 orang meninggal dunia dan 163 masih berstatus hilang, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Selasa (30/12).
Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































