Pemprov NTT kembangkan lima klaster budidaya rumput laut terintegrasi

9 hours ago 3

Kupang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mempercepat pengembangan industri rumput laut melalui pembentukan lima klaster budidaya sebagai strategi membangun ekosistem usaha yang terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir.

"Pemerintah Provinsi NTT terus membangun ekosistem industri rumput laut yang terintegrasi melalui pengembangan lima klaster budidaya, penyediaan bibit unggul, pembangunan kebun bibit, penguatan kapasitas pembudidaya, hingga pengembangan industri pengolahan," kata Pelaksana Tugas Kadis Kelautan dan Perikanan NTT Stefania Tunga Boro di Kupang, Rabu.

Pemprov NTT menilai rumput laut merupakan salah satu komoditas unggulan daerah yang memiliki potensi besar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir. Namun, pengembangannya masih menghadapi berbagai tantangan, baik di sektor hulu maupun hilir.

Di sektor hulu, tantangan tersebut meliputi ketersediaan bibit unggul yang berkelanjutan, serangan penyakit seperti ice-ice serta dampak perubahan iklim terhadap kualitas perairan.

Selain itu juga, belum meratanya penerapan teknologi budidaya modern dan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB), serta pemanfaatan lahan budidaya yang masih belum optimal.

Sementara di sektor hilir, sebagian besar hasil panen rumput laut masih dipasarkan dalam bentuk rumput laut kering sebagai bahan baku sehingga nilai tambah lebih banyak dinikmati daerah yang memiliki industri pengolahan.

Selain itu, keterbatasan infrastruktur logistik, akses pembiayaan, standardisasi mutu, sertifikasi produk, dan akses pasar ekspor juga masih menjadi pekerjaan rumah.

“Melalui pengembangan lima klaster budidaya, pemerintah daerah berharap rantai pasok rumput laut dapat diperkuat sekaligus mendorong tumbuhnya industri pengolahan di NTT agar nilai tambah komoditas tersebut dapat dinikmati masyarakat setempat,” ujar dia.

Baca juga: Menengok budi daya rumput laut di Pulau Ontoloe, NTT

Baca juga: Undana hadirkan peta digital interaktif rumput laut berbasis AI

Ia menjelaskan, pengembangan rumput laut juga diarahkan sejalan dengan prinsip ekonomi biru (blue economy), sehingga peningkatan produksi tetap memperhatikan kelestarian ekosistem pesisir dan laut.

Untuk mendukung upaya tersebut, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTT bersama Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan serta berbagai mitra pembangunan terus melakukan pendampingan kepada pembudidaya melalui penyuluh perikanan.

Pendampingan meliputi penerapan CBIB, mulai dari pemilihan lokasi budidaya sesuai daya dukung lingkungan, penggunaan bibit berkualitas, pengaturan jarak tanam, pemeliharaan yang ramah lingkungan, pengelolaan limbah budidaya, hingga teknik panen dan penanganan pascapanen.

Dia menambahkan, kolaborasi dengan pemerintah kabupaten/kota, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dunia usaha, dan investor terus diperkuat untuk menghadirkan inovasi teknologi budidaya yang lebih efisien, adaptif terhadap perubahan iklim, dan berkelanjutan.

Melalui strategi tersebut, Pemprov NTT menargetkan rumput laut tidak hanya menjadi komoditas unggulan daerah, tetapi juga motor penggerak ekonomi biru yang mampu meningkatkan daya saing, menciptakan nilai tambah, serta mendorong kesejahteraan masyarakat pesisir di NTT.

Baca juga: KKP sediakan bibit dukung pengembangan rumput laut di NTT

Baca juga: Dua puluh petani rumput laut NTT terima bantuan Kredit Merdeka

Pewarta: Kornelis Kaha
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |